Sumbawanews.com,- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022–2027, KH Yahya Cholil Staquf, menyatakan kesiapannya untuk kembali maju sebagai calon ketum dalam Musyawarah Nasional (Munas) PBNU mendatang. Pernyataan itu disampaikan secara terbuka dalam pertemuan dengan sejumlah kiai dan pengurus wilayah di Jakarta, Senin (14/8/2023), di tengah spekulasi yang berkembang di kalangan jaringan NU tentang arah kepemimpinan organisasi setelah masa jabatannya berakhir.
Gus Yahya, demikian ia akrab disapa, menegaskan bahwa keputusan untuk maju atau tidak bukan semata-mata soal ambisi pribadi, melainkan tanggung jawab kelembagaan. “Saya tidak mencari jabatan, tapi saya juga tidak akan menolak jika umat mempercayakan saya untuk melanjutkan amanah ini,” ujarnya, menekankan bahwa keputusan akhir akan ditentukan oleh Munas, bukan oleh dirinya sendiri.
Ia menambahkan, selama dua tahun terakhir, PBNU telah menyelesaikan sejumlah agenda strategis, termasuk penguatan pendidikan pesantren, perlindungan hak-hak ulama, serta peningkatan peran NU dalam kebijakan publik nasional. “Kita belum selesai. Masih banyak pekerjaan rumah yang butuh kesinambungan, terutama dalam menjawab tantangan radikalisme, kemiskinan struktural, dan degradasi nilai-nilai kebangsaan,” katanya.
Gus Yahya, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Umum PBNU sejak Munas 2022 di Lampung, menjadi tokoh pertama dari kalangan intelektual modern yang memimpin NU secara penuh setelah sejarah panjang kepemimpinan kiai tradisional. Ia dikenal sebagai pemikir yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas, serta aktif dalam dialog antaragama di tingkat global.
Meski belum ada pesaing resmi yang muncul, nama-nama seperti KH Miftachul Akhyar, KH Ahmad Ishomuddin, dan KH Abdusshomad Buchori disebut-sebut sebagai calon potensial. Namun, Gus Yahya menegaskan bahwa ia tidak menganggap siapa pun sebagai lawan. “Kita semua punya satu tujuan: menjaga NU sebagai benteng kebangsaan yang berakar pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” tegasnya.
Ketua PBNU ini juga menyinggung pentingnya regenerasi kepemimpinan. Ia mengaku telah mendorong generasi muda NU untuk lebih aktif dalam struktur organisasi, termasuk melalui program kaderisasi yang diperluas ke seluruh wilayah. “NU bukan milik satu generasi. Ia milik semua yang mau berkhidmat,” ujarnya.
Pernyataan Gus Yahya itu langsung mendapat respons hangat dari jaringan NU di berbagai daerah. Di Jawa Timur, sejumlah pengurus cabang menyatakan siap mendukung kembali kepemimpinannya, sementara di Sumatera dan Kalimantan, sejumlah kiai mengapresiasi langkah transparan yang diambilnya.
Munas PBNU dijadwalkan digelar pada akhir 2025, dan hingga kini, belum ada keputusan resmi mengenai lokasi penyelenggaraan. Namun, dengan kejelasan niat Gus Yahya, suasana politik internal NU mulai bergerak, meski tetap dalam koridor kekeluargaan dan kebersamaan yang menjadi ciri khas organisasi terbesar di Indonesia ini.















