Sumbawanews.com,- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong penerapan teknologi tepat guna untuk mempercepat hilirisasi komoditas pertanian di tingkat desa, sekaligus mengurangi ketergantungan pada harga pasar global. Dalam Seminar Nasional IPTEK Terapan (SIPTEKTERA) di Politeknik Negeri Lampung, Sabtu, 29 Agustus 2026, ia menekankan bahwa inovasi sains terapan harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar menghasilkan pengetahuan. Lampung, dengan produksi padi 3,5 juta ton per tahun dan 1,7 juta petani, masih kehilangan nilai tambah karena sebagian besar komoditas—seperti kopi, jagung, dan lada—diekspor dalam bentuk mentah.
Mirza mencontohkan upaya penguatan ekonomi desa melalui fasilitas pengering dan mesin pencetak pakan ternak yang dapat dibangun di tingkat lokal. Dengan teknologi sederhana itu, desa tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi bisa memproduksi beras, pakan ayam, hingga daging dan telur. Konsep ini, menurutnya, adalah wujud kedaulatan pangan: ketika desa menghasilkan padi, ia harus mampu menyediakan beras bagi penduduknya; ketika menghasilkan jagung, ia harus bisa mengolahnya menjadi pakan untuk memenuhi kebutuhan lokal.
Ia menilai industri besar tidak cukup menyerap tenaga kerja karena otomatisasi, sementara setiap tahun ribuan lulusan SMA, SMK, dan perguruan tinggi membutuhkan lapangan kerja. Oleh karena itu, hilirisasi harus inklusif, dirancang sesuai ekosistem lokal, dan didukung oleh sains yang responsif terhadap kebutuhan pengguna. Gubernur meminta Politeknik Negeri Lampung dan perguruan tinggi lain menjadi garda terdepan dalam pengembangan teknologi seperti dryer, mixer, dan mekanisasi pertanian yang sesuai konteks desa.
Selain teknologi, Mirza menegaskan bahwa kunci utama transformasi ekonomi desa adalah sumber daya manusia. Meski sumber daya alam, pendanaan perbankan, dan pasar tersedia, SDM yang mampu mengelola teknologi dan mengembangkan usaha masih terbatas. Pemprov Lampung akan mengalokasikan beasiswa terarah bagi mahasiswa agar setelah lulus kembali ke desa dan menjadi motor penggerak hilirisasi, bukan hanya pencari kerja. Ia menyerukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat untuk membangun ekosistem ekonomi yang tumbuh dari akar desa—menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat daya saing daerah.















