Sumbawanews.com,- Mindanao, Filipina – Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada Senin pagi waktu setempat, memicu peringatan tsunami dari otoritas lokal maupun internasional. Pusat Gempa Bumi Amerika Serikat (USGS) mencatat pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer, sekitar 120 kilometer barat laut kota Cotabato, dengan getaran terasa hingga ke wilayah selatan Filipina dan sebagian wilayah timur Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia segera mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami di sejumlah pesisir timur Sumatra dan Kalimantan, meski belum ada laporan gelombang tinggi. Di sisi lain, Jepang juga mengaktifkan sistem peringatan tsunami untuk pesisir Pasifik, terutama di wilayah Okinawa dan Kepulauan Ryukyu, sebagai langkah pencegahan.
Pemerintah Filipina melalui Badan Penanggulangan Bencana Nasional (NDRRMC) langsung mengaktifkan protokol darurat, meminta warga di pesisir selatan untuk segera mengungsi ke daerah lebih tinggi. Komunikasi terputus sementara di beberapa wilayah terdampak, termasuk di provinsi Maguindanao dan Sultan Kudarat, membuat upaya evakuasi dan penilaian kerusakan menjadi tantangan besar.
Hingga kini, belum ada laporan resmi korban jiwa atau kerusakan infrastruktur, namun sejumlah warga melaporkan getaran kuat yang memicu kepanikan, dengan bangunan bergetar hebat dan listrik padam secara mendadak. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, menghindari pantai, dan mengikuti arahan resmi melalui saluran komunikasi darurat.
Gempa ini terjadi di zona subduksi yang dikenal sangat aktif, di mana lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Filipina. Wilayah ini pernah menjadi episentrum gempa mematikan pada 2019 dengan magnitudo 6,5 yang menewaskan puluhan orang. Kali ini, kekuatannya jauh lebih besar, menimbulkan kekhawatiran akan skala dampak yang lebih luas.
Badan Tsunami Internasional (PTWC) memperkirakan gelombang tsunami bisa mencapai ketinggian hingga 3 meter di beberapa titik pesisir, meski kemungkinan besar akan melemah sebelum mencapai daratan jauh. Pemantauan terus dilakukan secara real-time oleh satelit dan stasiun seismik di seluruh kawasan Asia-Pasifik.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, telah menghubungi kedutaan besar di Manila untuk memastikan keselamatan warga negara Indonesia yang berada di wilayah terdampak. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan warga Indonesia yang menjadi korban.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menekankan bahwa gempa besar seperti ini adalah bagian dari dinamika geologis alam yang tak bisa dihindari, tetapi kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama menyelamatkan nyawa. “Peringatan tsunami bukanlah alarm palsu. Ini adalah peringatan nyata yang harus direspons dengan cepat dan tepat,” ujarnya dalam konferensi pers darurat.
Masyarakat di pesisir diminta tetap waspada selama beberapa jam ke depan, karena gempa susulan kemungkinan masih terjadi. Badan-badan bencana di kawasan ASEAN pun bersiaga, siap memberikan bantuan jika diperlukan.

















