Home Serba Serbi Tekno Fox Kuasai Roku, Penguasa TV Streaming Dunia

Fox Kuasai Roku, Penguasa TV Streaming Dunia

Sumbawanews.com,- Fox Corporation resmi mengakuisisi Roku senilai $22 miliar dalam kesepakatan yang akan mengubah peta kekuasaan industri streaming global. Dengan basis pengguna lebih dari 100 juta rumah tangga di seluruh dunia, Roku—yang selama ini dikenal sebagai jembatan antara penonton dan layanan seperti Netflix, Hulu, hingga Disney+—akan berada di bawah kendali perusahaan media yang juga menguasai jaringan berita Fox News dan Wall Street Journal. Meski antarmuka berwarna ungu Roku tampak tak akan berubah, perubahan tersembunyi jauh lebih dalam: Fox kini berpotensi mengendalikan data perilaku menonton jutaan pengguna, dari apa yang mereka tonton hingga layanan berlangganan yang mereka pilih.

Dalam pertemuan dengan investor, CEO Fox Lachlan Murdoch menegaskan bahwa operasional Roku akan tetap terpisah, namun konten Fox—termasuk olahraga, berita, dan stasiun lokal—akan ditempatkan secara strategis di halaman utama Roku. “Kami percaya kombinasi teknologi Roku, konten The Roku Channel, dan aset konten Fox akan memperluas jangkauan penonton secara signifikan,” ujar Murdoch. Pendiri Roku, Anthony Wood, yang akan tetap terlibat pasca-akuisisi pada 2027, menambahkan bahwa algoritma personalisasi halaman utama akan semakin canggih dengan akses ke lebih banyak konten berpendapatan tinggi, memungkinkan Fox untuk mengarahkan promosi berdasarkan preferensi pengguna secara lebih presisi.

Roku, yang sebelumnya mengandalkan iklan dan komisi dari penjualan langganan layanan streaming pihak ketiga, mengungkapkan pendapatan kuartalan sebesar $613 juta dari iklan dan $519 juta dari langganan. Akuisisi ini memberi Fox akses langsung ke ekosistem data konsumen yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis Roku. Selain itu, Fox juga akan memperluas jangkauan layanan streaming gratis berbasis iklan (FAST) miliknya, Tubi, yang kini memiliki 33% overlap penonton dengan The Roku Channel. “Gabungan keduanya bisa memperbesar jangkauan hingga tiga kali lipat,” ujar Murdoch, meski menegaskan bahwa kedua layanan akan tetap beroperasi secara terpisah.

Di sisi lain, Fox juga tengah meluncurkan layanan berlangganan baru bernama Fox One, sementara Roku baru-baru ini mengakuisisi Frndly TV dan meluncurkan Howdy—layanan berlangganan tanpa iklan dengan harga hanya $2,99 per bulan. Kombinasi ini memungkinkan Fox untuk tidak hanya mengontrol distribusi konten, tetapi juga menentukan model monetisasi di tingkat paling dasar: apa yang ditampilkan, kapan, dan kepada siapa.

Kritik pun muncul dari kalangan aktivis digital. Jeff Chester dari Center for Digital Democracy memperingatkan bahwa akuisisi ini bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan bagian dari konsolidasi kekuasaan media yang semakin terarah ke kepentingan politik tertentu. “Di era Trump, setiap akuisisi media adalah langkah politik. Ini adalah konsentrasi aset media ke tangan kelompok yang secara terbuka mendukung agenda MAGA,” katanya.

Analis industri Dan Rayburn memprediksi bahwa regulasi di Amerika Serikat kemungkinan besar tidak akan menghalangi kesepakatan ini, mengingat sejarah otoritas antimonopoli yang cenderung toleran terhadap konsolidasi media besar—seperti yang terlihat pada merger Paramount dan Warner Bros. Discovery. Sementara itu, kemungkinan penyelidikan dari Uni Eropa masih ada, meski dampaknya terbatas karena jejak Fox dan Roku di Eropa masih kecil.

Dengan kesepakatan ini, Fox bukan hanya membeli perangkat streaming—ia membeli pintu masuk ke rumah-rumah jutaan keluarga. Dan di balik layar, setiap klik, setiap tontonan, setiap keputusan berlangganan, kini menjadi bagian dari peta kekuasaan baru yang jauh lebih luas dari sekadar hiburan.

Previous articleTCL A65K Soundbar: Kompak, Cerdas, dan Harga Terjangkau
Next articleKyiv Diguncang Serangan Rudal, Asap Tebal Menyelimuti Kota
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.