Sumbawanews.com,- Jakarta — Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memperingatkan sekutu Eropa bahwa komitmen pertahanan mereka masih jauh dari cukup, sementara fokus mereka justru teralihkan ke isu-isu sosial seperti perubahan iklim dan kesetaraan gender. Dalam pertemuan para menteri pertahanan NATO di Brussels, Hegseth menegaskan bahwa kontribusi finansial AS terhadap aliansi militer itu akan semakin bergantung pada sejauh mana negara-negara Eropa meningkatkan anggaran pertahanan mereka.
Hegseth menekankan bahwa AS akan meninjau ulang penempatan pasukannya di Eropa dalam enam bulan ke depan, sebuah langkah yang bisa berarti penarikan signifikan dari benua itu jika sekutu-sekutu tidak memenuhi target NATO. Target tersebut menetapkan bahwa setiap anggota harus mengalokasikan 5% dari produk domestik bruto (PDB) untuk pertahanan pada tahun 2035 — sebuah angka yang hingga kini hanya dipenuhi oleh sedikit negara.
“Kontribusi tahunan kami untuk NATO akan bergantung pada apakah negara-negara lain memenuhi target pertahanan mereka,” ujar Hegseth. “Jika sekutu lain gagal berinvestasi dengan urgensi yang diperlukan, kontribusi kami akan berkurang.”
Kritiknya tidak hanya bersifat umum. Hegseth secara spesifik menyoroti Spanyol, Italia, dan Prancis karena tidak memberikan akses pangkalan atau wilayah udara mereka untuk operasi militer AS dalam konflik dengan Iran. Sebaliknya, ia memuji Jerman atas dukungan penuhnya melalui Pangkalan Udara Ramstein — meskipun hubungan kedua negara sempat tegang setelah Kanselir Friedrich Merz mengkritik strategi militer AS terhadap Teheran. Tak lama setelah itu, Presiden Donald Trump mengumumkan rencana penarikan sekitar 5.000 tentara AS dari Jerman.
Namun, kritik paling tajam Hegseth ditujukan pada apa yang ia sebut sebagai “distorsi prioritas” di kalangan elite Eropa. “Mereka menghabiskan energi politik untuk kampanye gender, keberlanjutan iklim, dan program sosial, sementara ancaman militer nyata di ambang pintu diabaikan,” katanya. Ia menilai pendekatan semacam itu tidak hanya naif, tetapi berisiko menggerogoti keamanan kolektif Atlantik di tengah meningkatnya agresivitas Rusia, ketegangan di Timur Tengah, dan ekspansi strategis China.
Pernyataan Hegseth ini muncul di tengah gelombang kekhawatiran di dalam NATO bahwa Eropa, meski secara ekonomi kuat, masih gagal mengubah kekuatan finansialnya menjadi kekuatan militer yang setara. Beberapa negara seperti Polandia dan Baltik justru telah meningkatkan belanja pertahanan hingga lebih dari 4% dari PDB, sementara negara-negara besar seperti Prancis dan Jerman masih berada di bawah 2%.
Dengan AS yang mulai meninjau ulang kewajiban strategisnya di Eropa, tekanan kini bergeser ke Brussels dan ibu kota-negara Eropa lainnya: apakah mereka akan memilih untuk memperkuat pertahanan, atau terus memprioritaskan agenda sosial di saat dunia semakin tidak stabil? Jawabannya akan menentukan masa depan aliansi yang selama tujuh dekade menjadi tulang punggung keamanan Barat.

















