Sumbawanews.com,- Fenomena El Nino telah resmi memasuki fase moderat, dengan anomali suhu permukaan laut di kawasan Ekuator Timur Pasifik mencapai 1,1 derajat Celsius per 21 Juni 2026—melampaui ambang batas resmi fase lemah. Menurut peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, peningkatan ini bukan sekadar tren sementara, melainkan bagian dari gelombang pemanasan yang terus memperkuat diri. Prediksi terbaru menunjukkan suhu bisa mencapai 2 derajat Celsius pada Juli mendatang, mendekati ambang batas klasifikasi “super El Nino.”
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kekhawatiran ini. Pada 23 Juni, nilai anomali suhu laut di zona Nino3.4 tercatat +1,61 derajat Celsius secara dasarian dan +1,00 derajat secara bulanan. Angka-angka ini menunjukkan pola pemanasan yang konsisten dan berkelanjutan, mirip dengan kejadian ekstrem pada 1997 dan 2015—dua tahun dengan dampak kekeringan paling parah dalam sejarah modern Indonesia.
Erma mengingatkan, El Nino 2026 tidak hanya kuat, tetapi juga memiliki struktur spasial dan dinamika sub-permukaan yang menyerupai gabungan kedua kejadian historis itu. “El Nino 2026 = 1997 + 2015,” ujarnya dalam unggahan media sosial, menekankan bahwa ini bukan sekadar peringatan biasa, melainkan sinyal sistemik yang memerlukan respons segera.
BMKG pun telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan untuk periode 20–30 Juni 2026. Sebanyak 14 provinsi berada dalam status “Waspada,” termasuk Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Sementara itu, lima wilayah—sebagian wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan—telah dimasukkan dalam kategori “Siaga,” yang berarti risiko kekeringan ekstrem sudah mengancam ketahanan pangan, pasokan air bersih, dan aktivitas pertanian.
Dengan prediksi cuaca yang semakin ekstrem, para ahli menyerukan koordinasi nasional yang lebih tegas antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta. Kesiapan infrastruktur air, distribusi bantuan pangan, dan mitigasi jangka panjang—seperti pengelolaan lahan berbasis adaptasi iklim—menjadi kunci utama menghadapi kemarau panjang yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir tahun.
Di tengah ketidakpastian iklim global, Indonesia kini berada di garis depan. Bukan hanya karena geografisnya yang rentan, tetapi karena kemampuannya merespons—atau gagal merespons—dengan cepat dan tepat. El Nino bukan lagi ancaman masa depan. Ia sudah di sini. Dan waktu untuk bertindak semakin sempit.















