Sumbawanews.com,- Jenazah Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan periode 2014–2019, disalatkan di kediamannya di Perumahan Puri Wira Bhakti 1/1B, Cikeas, Bogor, pada malam hari, sekitar pukul 18.20 WIB. Ribuan keluarga, rekan sejawat, dan pelayat berbondong-bondong hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang dikenal tegas, berintegritas, dan tak kenal kompromi dalam menjaga kedaulatan negara.
Peti jenazah yang dibalut kain merah putih ditempatkan di depan ruang utama rumah duka, dikelilingi tiga saf jemaah yang dipimpin oleh keluarga. Suasana hening, penuh khidmat, hanya terdengar suara takbir dan doa yang mengalun pelan di antara deru hujan ringan yang mengguyur kawasan itu.
Sebelumnya, jenazah tiba di rumah duka pada siang hari, disambut dengan upacara sederhana oleh petinggi militer dan pejabat pemerintah. Banyak yang datang tanpa mengenakan pakaian resmi, hanya dengan kain putih dan doa di hati—bukti betapa dalamnya pengaruh almarhum di kalangan prajurit dan masyarakat luas.
Kementerian Pertahanan secara resmi menyampaikan duka cita, menggambarkan Ryamizard sebagai prajurit sejati, pemimpin visioner, dan negarawan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk memperkuat pertahanan negara. Dalam pernyataan resmi di Instagram @kemhanri, Kemhan menyebut dedikasi dan keteguhan almarhum sebagai warisan abadi yang akan terus menginspirasi generasi penerus dalam menjaga NKRI.
“Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya, serta memberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan kepada keluarga yang ditinggalkan,” demikian bunyi pesan Kemhan.
Rencananya, jenazah akan dibawa ke Kementerian Pertahanan untuk disemayamkan sebelum dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta, pada Senin (1/6/2026). Upacara pemakaman akan dihadiri sejumlah tokoh nasional, termasuk mantan presiden, jenderal purnawirawan, dan perwira tinggi TNI yang pernah bekerja sama dengannya.
Ryamizard, yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sebelum menjadi Menhan, dikenal sebagai figur yang tak pernah ragu menyuarakan prinsip kebangsaan, bahkan ketika itu tidak populer. Ia kerap menyatakan bahwa “pertahanan bukan soal anggaran, tapi soal tekad”—sebuah filosofi yang masih hidup dalam doktrin militer hingga kini.
Kematian Ryamizard Ryacudu bukan hanya kehilangan bagi institusi militer, tapi juga bagi bangsa yang kehilangan salah satu suara paling jernih dalam menjaga martabat negara.















