Sumbawanews.com,- Coach Isman Jasulmei, legenda sepak bola Indonesia yang dikenal sebagai sosok pembina generasi muda dan mantan pemain Persija Jakarta, meninggal dunia pada Selasa, 29 September 2026, akibat serangan jantung di sebuah rumah sakit di Matraman, Jakarta. Kabar duka itu langsung memicu gelombang duka dari seluruh komunitas sepak bola, termasuk Persija Jakarta dan suporter Jakmania, yang serentak menyampaikan belasungkawa. Ketua PSSI Kota Depok, Meiyadi Rakasiwi, menyebut kepergiannya sebagai kehilangan besar bagi perkembangan pembinaan usia muda di tanah air.
Isman Jasulmei memulai karier sebagai pemain pada 1976 bersama Merdeka Boys Football Association, hingga 1982. Selama masa itu, ia menjadi bagian dari sejumlah tim nasional junior dan pra-kejuaraan, termasuk National Junior Lion City Cup 1982 di Singapura, National Super Pre-Olimpiade (PSSI Putih) 1983, National Garuda Pre-Asian Cup dan Garuda Merlion Cup 1984, serta National B Merlion Cup 1986. Setelah bermain untuk Arseto Solo FC pada 1986–1987, ia memperkuat Persija Jakarta dari 1987 hingga 1994, menjadi salah satu sosok kunci di lini tengah tim ibu kota pada era itu.
Setelah gantung sepatu, Isman Jasulmei beralih ke dunia kepelatihan dengan dedikasi luar biasa. Hingga 2020, ia telah menangani atau menjadi asisten pelatih di 25 tim berbeda, dengan lisensi AFC dan PSSI kelas B yang disetarakan sebagai lisensi A pada April 2021. Sebagai pelatih kepala, ia membawa Jakarta University menjadi runner-up nasional pada 1998, Trisakti FC runner-up Persija Jakarta Competition tahun 1999, dan Persija Junior runner-up Piala Suratin 2000. Ia juga pernah menangani Indocement-Trisakti FC (2002), Pra PON Riau U-23 (2003), Persikad Depok, Persis Solo, PSMS Medan, hingga Maluku FC pada periode 2022–2023.
Sebagai asisten pelatih, perannya tak kalah signifikan. Ia turut mengantarkan Persija Jakarta meraih gelar juara Liga Indonesia 2001 saat mendampingi Sergei Dubrovin, serta pernah bekerja sama dengan Danurwindo di tim yang sama. Dalam beberapa tahun terakhir, ia lebih fokus pada pembinaan akar rumput, mengajarkan filosofi kerja keras, kerja cerdas, dan disiplin kebersamaan sebagai fondasi membangun tim yang solid. Kepeduliannya terhadap generasi muda membuat namanya tak hanya diingat sebagai pemain atau pelatih, tapi sebagai guru yang menginspirasi ribuan anak muda di seantero Nusantara.















