Sumbawa Besar, sumbawanews.com – Menghadapi musim penghujan, kita harus mewaspadai munculnya penyakit hewan menular strategis di Kabupaten Sumbawa. Seperti Penyakit ngorok (SE/(Septicaemia Epizootica), Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), dan Surra.
Baca Juga: Disnakeswan Proses Pengadaan Ternak 2025 dengan Nilai Rp 9,7 Milliar
“Surra ada di kuda. Biasa juga kita temukan di kerbau, pada saat pemeriksaan ternak yang akan keluar di holding ground. Ada juga di sapi, tapi kerbau lebih banyak kita temukan,” kata Saifuddin, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Sumbawa didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan, drh. Rini Handayani, di ruang kerjanya Senin (11/11).
Diungkapkan, penyakit hewan biasanya akan muncul pada saat ternak mengalami stress. “Stres itu bukan hanya karena kondisi lingkungan, bisa juga karena kekurangan makanan, ekosistem yang tidak mendukung,” jelas dia.
Disebutkan, saat ini Kabupaten Sumbawa juga masih tercatat sebagai daerah Endemic Antrax. Dan pada musim hujan termasuk salah satu penyakit ternak yang perlu di waspadai.
Sebab, spora penyakit Antrax bisa bertahan berpuluh-puluh tahun didalam tanah. “Kita ada beberapa Lokasi yang masih muncul kasus Antrax. Sebenarnya ini penyakit tanah, dan tidak akan pindah kalau tidak ada yang pindahkan,” jelas dia.
Dikatakan, selama dua tahun terakhir, ditemukan kasus Antrax di Kecamatan Moyo Hilir dan Kecamatan Labuhan Badas. “Memang sudah kita lokalisir. Mudah-mudahan tidak sampai menyebar ke Lokasi yang lain,” ucapnya.
Pada dua kecamatan tersebut, Disnakeswan Kabupaten Sumbawa mengintensifkan vaksinasi antrax. “Stok vaksi SE, PMK, dan Antrax ini terbatas. Sehingga kita prioritaskan daerah-daerah yang tertular dan ternak rentan. Terutama ternak yang belum pernah sama sekali divaksin, sehingga tidak memiliki imunitas tubuh,” jelas dia. (Using)
















