Sumbawanews.com,- Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) menyambut positif kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik bersenjata di Timur Tengah. Anggota Komisi I, Oleh Soleh, menekankan bahwa kesepakatan ini menjadi titik balik krusial bagi stabilitas global dan harus dijaga oleh seluruh pihak, terutama negara-negara yang memiliki kepentingan strategis di kawasan.
“Perdamaian yang baru saja diraih bukan sekadar pernyataan politik, tapi harapan nyata bagi jutaan warga sipil yang selama bertahun-tahun hidup dalam ketakutan. Semua pihak wajib menghormati dan menjaga komitmen ini,” ujar Oleh Soleh, legislator dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dalam keterangan resminya, Senin (15/6/2026).
Dalam pernyataannya, Oleh secara khusus mengingatkan Israel, sekutu utama AS, untuk tidak melakukan tindakan provokatif yang bisa menggagalkan proses perdamaian. Ia menyoroti catatan sejarah Israel yang kerap melanggar kesepakatan internasional, termasuk serangan udara dan operasi militer di wilayah Iran yang pernah memicu eskalasi konflik berulang kali.
“Jangan sampai kepentingan geopolitik sempit mengorbankan masa depan perdamaian. Jika Israel melakukan serangan, maka Amerika Serikat dan PBB tidak boleh berdiam diri. Sanksi tegas harus segera diberlakukan, tanpa pandang bulu,” tegasnya.
Oleh menambahkan, Indonesia sebagai negara yang konsisten memperjuangkan perdamaian global melalui diplomasi aktif, harus berperan lebih strategis. Ia mendesak pemerintah untuk secara resmi menyatakan dukungan terhadap kesepakatan AS-Iran, sekaligus mendorong mekanisme pengawasan independen oleh komunitas internasional agar implementasi perjanjian berjalan transparan dan akuntabel.
Kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang rencananya akan ditandatangani pada 19 Juni 2026 di Jenewa, mencakup penghentian semua serangan militer, pencabutan sanksi ekonomi sebagian, serta pembukaan kembali saluran komunikasi diplomatik. Langkah ini dianggap sebagai terobosan besar setelah bertahun-tahun hubungan kedua negara terjebak dalam siklus kecurigaan dan eskalasi.
DPR RI menilai, keberhasilan perjanjian ini tidak hanya menentukan masa depan Timur Tengah, tetapi juga menjadi ujian bagi kredibilitas sistem tata kelola global. Jika kekuatan besar seperti AS dan Israel bisa mengabaikan kesepakatan yang telah disepakati, maka kepercayaan terhadap hukum internasional akan runtuh.
“Perdamaian bukan hadiah, tapi tanggung jawab bersama. Dan tanggung jawab itu tidak bisa dipikul oleh satu pihak saja,” pungkas Oleh Soleh.

















