Sumbawanews.com,- Leicester City, yang pernah menjadi juara Premier League 2015/2016 dalam kisah paling menakjubkan dalam sejarah sepak bola modern, kini terpuruk di kasta ketiga Inggris menjelang musim 2026/2027 setelah terdegradasi dari Championship akibat hukuman poin karena pelanggaran aturan Profitabilitas dan Keberlanjutan (PSR). Klub yang pernah mengalahkan raksasa-raksasa Eropa dengan tim murah meriah kini terancam kehilangan identitasnya, setelah keluarga Srivaddhanaprabha memutuskan menjual klub dengan harga awal 222 juta pound sterling—setara Rp5,4 triliun—setelah bertahun-tahun merugi secara konsisten. Puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Vichai Srivaddhanaprabha, yang membeli klub pada 2010, berubah menjadi tragedi setelah sang pemilik tewas dalam kecelakaan helikopter pada 2018, diikuti kepergian bintang-bintang seperti Riyad Mahrez dan N’Golo Kanté, serta degradasi berturut-turut pada 2022/2023 dan 2024/2025. Kerugian finansial yang terus membengkak—92,5 juta pound pada 2021, 89,7 juta pound pada 2022, 19,4 juta pound pada 2023, dan 71,1 juta pound pada 2024—memaksa keluarga Srivaddhanaprabha, yang sempat menolak penjualan, untuk melepaskan aset termasuk Stadion King Power, pusat pelatihan Seagrave, dan Belvoir Drive yang bernilai total 204 juta pound.
Kemenangan legendaris pada musim 2015/2016 yang membuat Leicester menjadi tim pertama dalam sejarah Premier League meraih gelar dengan odds 5000-1, awalnya menjadi simbol harapan bagi klub-klub kecil. Namun, setelah kepergian Vichai, manajemen klub gagal mempertahankan stabilitas keuangan dan sportif. Meski sempat meraih Piala FA pada 2021, prestasi itu justru menjadi puncak terakhir sebelum kejatuhan sistematis. Beban gaji tinggi yang diwarisi dari era kejayaan, kebijakan transfer yang tidak berkelanjutan, penurunan pendapatan akibat pandemi, dan hilangnya pendapatan TV serta komersial setelah terdegradasi dari Premier League menjadi faktor utama kehancuran finansial. Dengan hukuman poin yang memastikan degradasi ke League One, Leicester City kini bukan lagi sekadar tim yang sedang kesulitan—tapi sebuah legenda yang berjuang untuk bertahan hidup.
Keluarga Srivaddhanaprabha, yang masih memegang kendali, kini membuka proses penjualan melalui “Project Lineup”—sebuah rencana yang menawarkan seluruh aset klub sebagai satu paket utuh. Di tengah duka mendalam atas kepergian Vichai yang dihormati para suporter, dan kekalahan tak terduga dari puncak kejayaan menuju kasta ketiga, Leicester City menjadi simbol betapa rapuhnya kejayaan dalam sepak bola modern—ketika keberuntungan, keberanian, dan cinta tak cukup melawan beban ekonomi yang tak terkendali.















