Sumbawanews.com,- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memetakan 41 lokasi potensial di bawah permukaan bumi untuk menyimpan karbon dioksida sebagai bagian dari strategi menekan emisi gas rumah kaca. Pemetaan ini fokus pada formasi akuifer salin, yaitu lapisan batuan bawah tanah yang mengandung air berasin dan tidak layak konsumsi, yang dianggap aman sebagai media penyimpanan karbon melalui teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Total kapasitas teoretis penyimpanan karbon yang teridentifikasi mencapai 6.435 gigaton CO2, tersebar di Kalimantan, Jawa, dan Sumatra.
Kalimantan menjadi wilayah dengan potensi terbesar, yakni 4.824 Gt CO2e di 12 area, termasuk Bengkayang, Entikong, Tabang, dan Puruk Cahu. Pulau Jawa menyumbang 1.225 Gt CO2e di 15 area, meliputi Sragen, Banyumas, Kediri, hingga Bogor. Sementara Sumatra memiliki potensi 386 Gt CO2e di 14 area, seperti Padang Sidempuan, Muara Enim, dan Baturaja di Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, upaya ini selaras dengan komitmen Indonesia dalam LTS-LCCR 2050 untuk pengembangan teknologi CCS. Prioritas kajian saat ini berfokus pada cekungan sedimen yang belum berproduksi migas atau wilayah frontier. Pada 2026, pemetaan akan diperluas ke Bali hingga Nusa Tenggara, kemudian ke Sulawesi hingga Papua pada 2027–2028. Basis data geologi ini menjadi fondasi penting untuk mendukung proyek CCS nasional guna mencapai target penahanan kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius sesuai kerangka UNFCCC.















