Sumbawanews.com,- Pada Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 21.30 WIB, bus tim U-18 Persib Bandung menjadi sasaran penyerangan di Rest Area KM 360, Batang, Jawa Tengah. Insiden itu terjadi saat rombongan tim muda Maung Bandung dalam perjalanan pulang setelah bertanding melawan Garuda United di Solo, dalam kompetisi Elite Pro Academy (EPA) U-18. Manajemen Persib secara resmi mengecam keras serangan tersebut, menilai ini sebagai ancaman serius terhadap keselamatan personel yang sedang menjalankan tugas profesional, sekaligus dugaan perusakan kendaraan dan pengambilan barang tanpa hak. Klub memutuskan menempuh jalur hukum dan mengimbau seluruh suporter untuk tidak melakukan balasan.
Persib menyatakan, segala bentuk kekerasan dan tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain tidak dapat dibenarkan. Dalam pernyataan resmi pada Senin, 12 Oktober 2026, manajemen menekankan pentingnya penanganan objektif dan berbasis fakta agar pelaku yang terbukti bersalah dapat diproses sesuai hukum. Di tengah kekacauan, dua petugas Persib—Media Officer Pandu Persada dan perwakilan Akademi Ridwan—terpisah dari rombongan setelah pergi ke area toilet. Pandu mengalami kekerasan fisik dan terpaksa berlindung di sebuah tempat tambal ban, sementara Ridwan berhasil kabur dengan menumpang mobil orang tua salah satu pemain. Bus tim akhirnya melanjutkan perjalanan tanpa keduanya, hingga manajemen berkoordinasi intensif dengan kepolisian setempat untuk evakuasi dan pengamanan.
Laporan awal menyebut penyerangan dilakukan oleh sekelompok oknum yang diduga berasal dari suporter rival yang sedang pulang dari pertandingan di Yogyakarta. Kerusakan pada bus dan hilangnya sejumlah koper milik ofisial dan tim juga dilaporkan. Hingga kini, identitas pelaku utama belum dikonfirmasi secara resmi. Meski ada permintaan maaf dari Ketua Umum The Jakmania terkait insiden ini, Persib tetap menegaskan bahwa penyelesaian harus melalui proses hukum, bukan aksi balasan.
Klub terus memantau kondisi para korban dan berkomitmen menjaga keamanan seluruh personel yang terdampak. Persib menyerukan ketenangan dari semua pihak, menekankan bahwa sportivitas dan hukum harus menjadi landasan penyelesaian konflik, bukan kekerasan.















