Home Serba Serbi Tekno BRIN Luncurkan Solusi Hybrid Lindungi Pantura Jawa

BRIN Luncurkan Solusi Hybrid Lindungi Pantura Jawa

Sumbawanews.com,- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusung pendekatan inovatif bernama *hybrid eco-engineering* untuk memperkuat ketahanan pesisir Pantai Utara Jawa, menggabungkan struktur teknis buatan manusia dengan pemulihan ekosistem alami. Dalam rencana yang mulai diwujudkan tahun ini, BRIN akan membangun breakwater sepanjang 100 meter di Pantai Sederhana, Bekasi, yang dilapisi material khusus bernama BRINlock—sebuah inovasi teknologi yang dirancang untuk memecah energi gelombang—sekaligus mengintegrasikannya dengan penanaman mangrove secara strategis.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Dinar Catur Istiyanto, menjelaskan bahwa pendekatan ini bukan sekadar alternatif, melainkan kebutuhan mendesak. “Struktur keras saja tidak cukup. Kita harus menggabungkan kekuatan teknik dengan kearifan alam agar solusi ini bertahan lama, efisien, dan ramah lingkungan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6/2026).

Pembangunan demplot ini telah mendapat persetujuan teknis dan kini menunggu finalisasi anggaran dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan. Untuk mendukung desain yang akurat, tim BRIN tengah melakukan pengukuran batimetri dan analisis karakteristik tanah pesisir. Kolaborasi dengan PT Semen Indonesia dan BUMN konstruksi lainnya juga sedang digodok untuk memastikan produksi BRINlock bisa dilakukan secara masif di masa depan.

Di sisi ekologis, Khusnul Setia Wardani, koordinator rehabilitasi mangrove di BRIN, menyoroti ancaman laten yang sering diabaikan: aktivitas manusia. “Kerusakan mangrove di Muara Gembong dan sekitarnya tidak hanya disebabkan abrasi laut. Lebih besar lagi, dampak dari pembukaan lahan untuk tambak yang merusak pola sedimentasi alami,” katanya. Ia menekankan pentingnya kajian zonasi yang mendalam—mulai dari pemilihan spesies mangrove hingga jarak aman antara tanggul dan hutan bakau—sebelum proyek skala besar diluncurkan.

Sebagai bukti keberhasilan konsep serupa, ia mengacu pada kasus Losarang, Indramayu, di mana pembangunan tanggul justru memicu sedimentasi alami yang mempercepat regenerasi mangrove. “Ini adalah contoh bagaimana infrastruktur bisa menjadi katalisator, bukan penghambat, bagi pemulihan alam,” tambahnya.

Pihak Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menyambut positif rekomendasi BRIN. Deputi I BOPPJ, Sawarendro, mengatakan data hasil riset akan segera diintegrasikan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Teluk Jakarta. “Kami sedang memetakan luasan mangrove dan tambak secara digital, lalu menyusun peta *layout* dan *cross section* yang akan menjadi dasar regulasi baru,” ujarnya.

Tantangan tak hanya terbatas pada Teluk Jakarta. Di segmen Kendal-Semarang-Rembang, penurunan tanah yang terus berlanjut meski penggunaan air tanah dibatasi menjadi perhatian serius. Sawarendro meminta BRIN memberikan telaah teknis mengenai pengelolaan kolam retensi, sistem pengolahan air, serta dampak faktor tektonik dan geologi lokal. Ia juga menilai penerapan BRINlock di depan tanggul Semarang bisa mengurangi beban struktural, sekaligus meningkatkan efisiensi pemecah gelombang tanpa perlu memperbesar dimensi tanggul.

Dengan pendekatan ini, BRIN tidak hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga paradigma baru: infrastruktur pesisir yang tidak lagi melawan alam, melainkan bekerja sama dengannya—mengubah ancaman menjadi peluang, dan kerusakan menjadi regenerasi.

Previous articlePolri Gelar Nobar Piala Dunia Secara Serentak di Seluruh Indonesia
Next articleJelang Aksi Mahasiswa, Lalu Lintas Jakarta Masih Lancar
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.