Sumbawanews.com,- Persebaya Surabaya resmi menjadi juara Piala Presiden 2026 setelah mengalahkan Persib Bandung lewat adu penalti 6-5 pada final yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (6/8) malam. Persija Jakarta menempati posisi ketiga usai mengalahkan Arema FC 3-1, sementara turnamen yang berlangsung dari 25 Juli hingga 6 Agustus itu menyajikan 16 pertandingan dengan delapan klub dari empat negara. Di balik gemerlap trofi, penyelenggaraan turnamen ini justru mencatatkan prestasi lebih besar: tata kelola transparan dan dampak ekonomi yang tepat sasaran.
Audit keuangan independen oleh PricewaterhouseCoopers (PwC) telah memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama delapan tahun berturut-turut sejak 2015, tanpa catatan atau pengecualian. Seluruh pembiayaan turnamen—yang mencapai sekitar Rp100 miliar—murni berasal dari swasta, tanpa satu rupiah pun dari APBN, APBD, atau dana BUMN. Ketua Steering Committee Maruarar Sirait menegaskan bahwa keterbukaan bukan sekadar janji, tapi dibuktikan dengan menampilkan dokumen resmi dari AFC dan Mabes Polri secara langsung saat menjawab kritik terkait jadwal pertandingan yang dinilai padat. Untuk menyeimbangkan beban fisik pemain, panitia memberikan fleksibilitas 12 kali pergantian pemain per laga, sesuai persetujuan AFC sejak 6 Juli.
Keputusan meniadakan penonton di semifinal dan final diambil setelah koordinasi mendalam dengan Polda Bali dan Mabes Polri, demi menjaga keamanan di tengah rivalitas suporter yang tinggi. Sebanyak 1.284 personel keamanan gabungan dari Polri, TNI, Pemda, hingga Pecalang dikerahkan untuk memastikan laga berjalan kondusif. Sementara itu, kebijakan tiket seragam Rp50 ribu di fase grup memastikan aksesibilitas bagi masyarakat luas, bukan hanya kalangan tertentu.
Dampak ekonomi lokal menjadi pilar utama penyelenggaraan. Lebih dari 80 UMKM di Surabaya, 50–60 di Bandung, dan tetap 25 UMKM di Bali—meski tanpa penonton—diberi ruang berjualan. Total transaksi UMKM selama turnamen tembus Rp1,5 miliar, naik 27 persen dibanding edisi sebelumnya. Program “Datang Bersih Pulang Bersih” di tiga kota penyelenggara juga mendorong daur ulang sampah stadion yang hasilnya kembali ke masyarakat sekitar. Hadiah total Rp18,5 miliar dibagikan kepada empat besar: Persebaya mendapat Rp8 miliar, Persib Rp3,5 miliar, Persija Rp2,5 miliar, dan Arema Rp1,5 miliar.
Selama delapan tahun perjalanannya, Piala Presiden telah membuktikan bahwa olahraga bisa menjadi mesin pemerataan ekonomi sekaligus teladan tata kelola. Bukan hanya soal siapa yang menang di lapangan, tapi bagaimana turnamen itu mengalirkan manfaat nyata ke akar rumput—dari pedagang kaki lima hingga suporter biasa. Di tengah krisis kepercayaan terhadap tata kelola olahraga nasional, formula transparan dan tepat sasaran ala Piala Presiden 2026 layak menjadi rujukan, bukan hanya untuk sepak bola, tapi untuk seluruh ajang nasional.















