Sumbawanews.com,- Perwakilan LaLiga Grassroots Department, Juan Florit, menekankan dua pilar krusial untuk mengembangkan pemain muda di Indonesia: pendidikan pelatih yang berbasis metodologi jelas dan sistem kompetisi usia muda yang berjenjang. Dalam pertemuan daring tertutup pada Rabu (16/9/2026), Florit menyoroti bahwa keberhasilan Spanyol melahirkan bintang-bintang seperti Lionel Messi dan Lamine Yamal bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sistem berkelanjutan yang dimulai dari akar rumput.
Florit menjelaskan bahwa sejak dekade 1990-an, Spanyol telah membangun pendidikan pelatih yang terstruktur selama hampir 40 tahun, dengan filosofi dan teknik yang seragam. Hal ini memastikan bahwa setiap anak yang bergabung dengan akademi mendapat pembinaan konsisten, bukan hanya dalam teknik, tetapi juga dalam pemahaman permainan. Tanpa pelatih yang terdidik dengan baik, menurutnya, program latihan sebaik apa pun akan kehilangan arah.
Saran kedua yang ia sampaikan adalah pentingnya kompetisi usia muda yang berjenjang dan berjalan sepanjang musim. Ia menilai, hambatan utama di Asia Tenggara—termasuk Indonesia—adalah ketiadaan struktur kompetisi yang sistematis dari level dasar hingga profesional. Di Spanyol, alur karier pemain muda jelas: dari akademi lokal, ke liga regional, lalu ke tim muda klub profesional, hingga akhirnya masuk tim utama. “Sangat penting untuk memiliki jalan yang jelas dari pemain ke level profesional,” tegasnya.
Namun, Florit menambahkan, meniru program latihan atau drill Spanyol saja tidak cukup. Yang paling menentukan adalah lingkungan sekitar pemain—dukungan keluarga, akses ke fasilitas, budaya sepak bola di komunitas, dan kesadaran akan pengembangan jangka panjang. “Hanya mengikuti cara berpikir Spanyol tidak cukup. Lingkungan adalah faktor terbesar yang membuat perbedaan sepanjang waktu,” ujarnya.
Pernyataan ini sejalan dengan fakta bahwa kejayaan Timnas Spanyol dan klub-klub besar seperti Barcelona dan Real Madrid tidak hanya dibangun dari bakat alami, tetapi dari ekosistem yang utuh: pelatih terdidik, kompetisi berjenjang, dan lingkungan yang mendukung. Bagi Indonesia, tantangan terbesar bukanlah mencari model, melainkan membangun sistem yang konsisten, berkelanjutan, dan menyentuh akar masyarakat.















