Sumbawanews.com,- Serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran berlangsung dua hari berturut-turut, menewaskan setidaknya 14 orang dan memperdalam krisis diplomasi antara kedua negara. Serangan pertama dilancarkan pada Rabu, menghantam sejumlah kota di wilayah selatan Iran, diikuti serangan lebih besar pada Kamis dini hari yang menargetkan sekitar 90 sasaran militer di Teheran. AS mengklaim operasi ini sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, sementara Iran membalas dengan serangan terhadap aset militer AS di negara-negara Teluk. Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman (MoU) dengan Iran “pada dasarnya sudah berakhir,” meski tetap membuka ruang untuk negosiasi. Pemerintah Washington juga mencabut pengecualian sanksi terhadap ekspor minyak Iran, yang sebelumnya menjadi bagian dari kesepakatan damai. Kedua pihak saling menyalahkan, sementara korban sipil dan militer terus bertambah, termasuk setidaknya satu anggota Korps Garda Revolusi Islam. Ketegangan memuncak saat serangan AS berlangsung bersamaan dengan prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang menurut laporan tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada Februari lalu.















