Sumbawanews.com,- Pertemuan rahasia tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada hari ini batal dilakukan, menurut sumber-sumber resmi yang dikonfirmasi oleh pejabat kedua negara. Pertemuan yang seharusnya berlangsung di Jenewa itu direncanakan sebagai langkah krusial untuk meredakan ketegangan yang memuncak sejak tahun 2018, ketika AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA).
Sumber di Washington mengatakan, keputusan pembatalan diambil setelah munculnya ketidaksepakatan mendalam mengenai kerangka waktu dan cakupan pembicaraan. Iran menuntut pencabutan semua sanksi ekonomi sebelum membahas kembali pembatasan program nuklirnya, sementara pihak AS menekankan bahwa setiap kemajuan harus bersifat timbal balik dan bertahap. Kedua belah pihak, menurut laporan, saling menyalahkan atas kegagalan mencapai kesepakatan teknis menjelang pertemuan.
Di sisi lain, pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa Washington “tidak menunjukkan niat serius” dan terus mempertahankan pendekatan “tekanan maksimum” yang dianggap merusak kepercayaan. Sementara itu, pejabat AS menegaskan bahwa mereka tetap terbuka terhadap dialog, tetapi tidak akan “membayar tebusan” dengan mencabut sanksi tanpa jaminan konkret dari Teheran.
Pertemuan ini awalnya dirahasiakan hingga menjelang hari-H, menandakan betapa rapuhnya proses diplomasi antara dua negara yang telah berada dalam keadaan permusuhan de facto selama lebih dari empat dekade. Kegagalan kali ini memperkuat kekhawatiran para pengamat bahwa hubungan antara AS dan Iran kini berada di titik terendah sejak pemulihan hubungan diplomatik pasca-revolusi 1979.
Meski demikian, kedua pihak tetap menyatakan komitmen untuk menjaga saluran komunikasi tetap terbuka. Seorang diplomat Eropa yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan, “Ini bukan akhir, tapi pengingat bahwa jalan menuju kesepakatan akan penuh lubang dan jebakan.”
Pertemuan berikutnya belum dijadwalkan, tetapi para pengamat memprediksi tekanan internal di kedua negara—terutama di AS menjelang pemilu 2024 dan di Iran menjelang pemilihan parlemen 2024—akan semakin mempersulit ruang bagi diplomasi.

















