Sumbawanews.com,- Ratusan kilometer di atas Bumi, Amerika Serikat dan China tengah terlibat dalam perlombaan senjata yang tak terlihat: pengendalian ruang angkasa. Pada Juni 2026, sebuah objek kecil dilepaskan dari pesawat antariksa rahasia China, lalu bermanuver mengitari satelit miliknya sendiri sebelum kembali bergabung dengan wahana induknya. Aktivitas ini, yang terdeteksi oleh perusahaan pemantau orbit LeoLabs, menunjukkan kemampuan teknis tinggi dalam pelepasan, pengendalian, dan pertemuan kembali wahana di orbit—langkah yang bisa berfungsi sebagai alat pemeliharaan maupun senjata.
Pesawat antariksa China itu, yang di Barat dikenal sebagai Shenlong, diluncurkan pada Februari 2026 dari Pusat Peluncuran Jiuquan menggunakan roket Long March-2F. Ini adalah penerbangan keempat program eksperimental pesawat ulang-alik nirawak China. Beijing hanya mengklaim misinya bertujuan untuk menguji teknologi pesawat yang dapat digunakan kembali dan mendukung “penggunaan ruang angkasa secara damai.” Tidak ada rincian resmi tentang bentuk wahana, durasi misi, atau rencana penerbangan. Gambar resminya pun tidak pernah dirilis.
Kerahasiaan total ini membuat setiap manuver orbitnya menjadi sorotan analis pertahanan Barat. Teknologi yang mampu mendekati dan menyatu dengan objek lain di orbit secara teoretis bisa digunakan untuk memperbaiki satelit rusak atau membersihkan sampah antariksa—tapi juga bisa dipakai untuk mengganggu, memindahkan, atau melumpuhkan satelit lawan. Dengan ketergantungan militer modern yang semakin besar pada sistem satelit untuk komunikasi, GPS, pengawasan, dan penargetan senjata, kemampuan semacam ini berpotensi mengubah ruang angkasa dari pendukung operasi militer menjadi medan pertempuran aktif.
Amerika Serikat, yang memiliki pesawat X-37B dengan misi panjang tanpa awak, juga mengembangkan kemampuan serupa. Jenderal Chance Saltzman, kepala Operasi Antariksa AS, menyebut perkembangan China sebagai ancaman “substansial.” Para ahli, termasuk mantan profesor Air War College Everett Dolman, memperingatkan bahwa wahana yang bisa bermanuver lincah dan membawa satelit kecil bisa dilihat lawan sebagai “pesawat tempur ruang angkasa.” Di tengah konflik global yang semakin bergantung pada sistem luar angkasa, setiap gerakan di orbit kini bukan lagi urusan astronom—tapi strategi militer.















