Home Serba Serbi Tekno Anggrek Merpati Berpotensi Jadi Bahan Baku Nutraseutikal, BRIN Temukan Kandungan Bioaktif Berbeda...

Anggrek Merpati Berpotensi Jadi Bahan Baku Nutraseutikal, BRIN Temukan Kandungan Bioaktif Berbeda Berdasarkan Lokasi

Sumbawanews.com,- Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa anggrek merpati (*Dendrobium crumenatum*) yang tumbuh di kawasan konservasi Indonesia memiliki potensi besar sebagai sumber senyawa bioaktif untuk pengembangan produk nutraseutikal. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal *Applied Biochemistry and Biotechnology* pada 14 Juli 2026 menunjukkan bahwa komposisi metabolit tanaman ini berbeda signifikan tergantung lokasi tumbuhnya, yang secara langsung memengaruhi aktivitas antioksidan dan antibakterinya. Analisis menggunakan metode UHPLC-HRMS mengidentifikasi 48 senyawa metabolit, termasuk fenolik, flavonoid, alkaloid, dan asam lemak, dengan profil yang bervariasi antara Kebun Raya Bogor dan Taman Nasional Ujung Kulon. Perbedaan ini disebabkan respons adaptif tanaman terhadap tekanan lingkungan seperti urbanisasi dan stres air.

Di Kebun Raya Bogor, anggrek merpati menghasilkan kandungan asam lemak dan alkaloid lebih tinggi, diduga akibat tanah yang kaya nitrogen dan tekanan lingkungan perkotaan. Sementara itu, tanaman di Taman Nasional Ujung Kulon, yang mengalami curah hujan lebih rendah dan stres air, memproduksi lebih banyak senyawa fenolik dan flavonoid sebagai mekanisme pertahanan terhadap stres oksidatif. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan ekstrak daun dari Ujung Kulon unggul dalam penangkapan radikal ABTS (IC50: 99,23 µg/mL) dan aktivitas FRAP (200,78 mg TE/g), sedangkan ekstrak dari Bogor menunjukkan daya hambat terbaik terhadap radikal DPPH (IC50: 242,5 µg/mL). Dalam uji antibakteri, ekstrak batang dari Bogor mampu menghambat *Pseudomonas aeruginosa* hingga 86,44 persen, sementara ekstrak batang dari Ujung Kulon paling efektif melawan *Staphylococcus aureus*. Simulasi *molecular docking* memprediksi senyawa 4′,6-dihydroxy-3′-methoxyaurone dari anggrek ini memiliki afinitas tertinggi terhadap protein PBP2 pada bakteri, yang berperan dalam pembentukan dinding sel, sehingga berpotensi menghambat pertumbuhannya.

Peneliti postdoctoral BRIN, Salsabila Aqila Putri, menegaskan bahwa temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk mengembangkan anggrek merpati sebagai bahan baku nutraseutikal berbasis sumber daya hayati Indonesia. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelestarian kawasan konservasi sebagai penyimpan plasma nutfah yang menyimpan potensi senyawa bioaktif bernilai tinggi untuk inovasi di bidang kesehatan, pangan fungsional, dan bioteknologi.

Previous articlePrancis vs Spanyol Bertemu di Semifinal Piala Dunia 2026, Duel Senilai Rp57,9 Triliun
Next articleKylian Mbappe Tetap Jadi Kandidat Ballon d’Or Meski Prancis Gagal ke Final Piala Dunia 2026