Sumbawanews.com,- Carlo Ancelotti resmi memulai era baru Timnas Brasil dengan memanggil delapan pemain debutan dalam skuad pertamanya setelah kegagalan di Piala Dunia 2026, di mana Brasil tersingkir di babak 16 besar setelah kalah 1-2 dari Norwegia. Dari 26 nama yang dipilih untuk menghadapi Australia dan India, hanya sembilan pemain yang pernah tampil di turnamen dunia, sementara sejumlah bintang senior seperti Neymar, Casemiro, dan Fabinho tidak lagi dipanggil. Neymar, yang menutup karier internasionalnya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Brasil dengan 80 gol, tidak masuk daftar, begitu pula Alisson Becker yang absen meski Ancelotti menegaskan pintu kembali terbuka untuknya di masa depan.
Delapan pemain yang akan menjalani debut bersama tim senior adalah Pedro Morisco dan Otávio di posisi kiper; Arthur Dias dan Jair di lini belakang; Matheuzinho dan Mauro Júnior sebagai bek sayap; serta Breno Bidon dan Gabriel Bontempo di lini tengah. Ancelotti juga mencoret seluruh kiper yang dibawa ke Piala Dunia, menggantikannya dengan Hugo Souza, Pedro Morisco, dan Otávio. Di sisi lain, lima pemain berpengalaman—Marquinhos, Gabriel Magalhães, Bruno Guimarães, Raphinha, dan Vinicius Junior—tetap dipertahankan sebagai tiang penopang bagi generasi muda.
Ancelotti mengakui kekalahan dari Norwegia sebagai kekecewaan pribadi dan tim, meski Brasil menunjukkan peningkatan performa setelah satu jam pertandingan. Ia menekankan bahwa rasa sakit kegagalan di level tim nasional bertahan lebih lama daripada di klub, sehingga ia memilih membangun fondasi baru untuk Piala Dunia 2030. Rata-rata usia skuad baru berada di 24 tahun, turun empat tahun dari skuad Piala Dunia. Brasil akan memulai era ini dengan tiga laga persahabatan: melawan Australia di Townsville (25 September) dan Brisbane (29 September), lalu menghadapi India pada 3 Oktober di Calcutta—pertemuan pertama dalam sejarah antara kedua tim senior.
Ancelotti menegaskan daftar ini belum final, dan pemain yang tidak dipanggil masih punya peluang masuk jika menunjukkan performa konsisten. “Kepercayaan kami pada kualitas, keseriusan, dan profesionalisme para pemain senior sangat besar. Mereka akan membantu generasi muda berkembang,” ujarnya. Dengan fokus pada regenerasi mendalam, Brasil kini bergerak bukan untuk memperbaiki kegagalan 2026, tapi membangun tim yang mampu merebut gelar juara dunia keenam pada 2030.















