Sumbawanews.com,- Jakarta — Selama lebih dari seabad, interior Pagoda Kayu Yingxian di Provinsi Shanxi, China, menyimpan misteri yang tak terjamah. Bangunan berusia seribu tahun itu, yang dibangun tanpa satu paku pun, menjadi keajaiban arsitektur Dinasti Liao—namun akses ke dalamnya ditutup selama lebih dari 10 tahun demi menyelamatkannya dari kerusakan. Kini, teknologi kecerdasan buatan membuka pintu rahasia itu, tanpa menyentuh satu balok kayu pun.
Melalui proyek “Pengalaman Imersif Multimodal AI Plus”, pengunjung kini bisa menjelajahi setiap lantai pagoda—termasuk empat lantai tersembunyi yang selama ini hanya menjadi legenda—dalam pengalaman digital tanpa perlu headset atau perangkat khusus. Dengan sistem CAVE lima layar yang memproyeksikan gambar realistis 3D, pengunjung seolah melayang di antara koridor kayu yang rapuh, menyaksikan cahaya matahari menembus jendela kuno, dan mengamati detail halus: prasasti restorasi yang tersembunyi di sudut, plakat bersejarah yang menggantung tinggi, hingga sambungan kayu tradisional yang rumit tanpa paku atau lem.
“Fantastis. Akhirnya saya bisa melihat harta karun yang tersembunyi di dalam menara,” tulis salah seorang pengunjung di media sosial, menggambarkan kekaguman yang dirasakan ribuan orang sejak proyek ini diluncurkan.
Pagoda ini, yang berdiri setinggi 67 meter dengan sembilan tingkat—lima terlihat dari luar dan empat tersembunyi di dalam struktur—adalah pagoda kayu tertua dan tertinggi di dunia yang masih bertahan. Dibangun pada tahun 1056, ia menahan guncangan gempa, perang, dan waktu selama lebih dari satu milenium. Namun, kemiringan struktural yang semakin parah akibat usia dan tekanan lingkungan membuat otoritas warisan budaya China memutuskan untuk menutup akses fisik demi kelestarian.
Dilema antara pelestarian dan akses publik pun terpecahkan lewat inovasi digital. Tim teknologi yang bekerja sama dengan para arkeolog dan ahli arsitektur kuno merekam setiap detail bangunan dengan pemindaian laser beresolusi tinggi, lalu membangun ulangnya secara digital dengan akurasi hingga mikrometer. Narasi interaktif, animasi dinamis, dan suara alami—seperti gemerisik angin di atap kayu—menghidupkan kembali nuansa spiritual dan teknis yang memukau dari era Dinasti Liao.
“Ini bukan sekadar simulasi. Ini adalah perjalanan waktu,” kata Yang Yinkai, koordinator proyek. “Kami tidak hanya memperlihatkan bangunan. Kami memulihkan suara, cahaya, dan nafasnya.”
Dalam pengalaman virtual itu, pengunjung bisa “menyentuh” sambungan kayu berbentuk kait dan pasak yang menjadi keunggulan teknologi konstruksi kuno Tiongkok—metode yang membuat pagoda ini mampu bertahan meski tanpa satu paku logam pun. Mereka juga bisa melihat jejak restorasi dari abad ke-18, yang sebelumnya hanya bisa diakses oleh para peneliti dengan alat khusus.
Proyek ini bukan hanya tentang wisata. Ia adalah bentuk baru pelestarian budaya: di mana keindahan sejarah tidak lagi dikorbankan demi akses, tetapi justru diperluas melalui teknologi. Di tengah dunia yang serba cepat, Pagoda Kayu Yingxian kini menjadi simbol bahwa masa lalu bisa tetap hidup—tanpa harus dijamah.
Sumber: Xinhua

















