Sumbawanews.com,- Pada menjelang musim 2026-2027, lima pelatih top dunia menjadi yang paling digaji tinggi, dengan bayaran masing-masing mencapai ratusan miliar rupiah, menunjukkan betapa besarnya investasi klub terhadap keberhasilan strategis di pinggir lapangan. Simone Inzaghi dari Al-Hilal memimpin daftar dengan gaji Rp533,35 miliar, menyusul Diego Simeone (Rp482,90 miliar) di Atletico Madrid, Mikel Arteta (Rp360,37 miliar) di Arsenal, Oliver Glasner (Rp312,32 miliar) di Nottingham Forest, dan Xabi Alonso (Rp276,28 miliar) di Chelsea. Kenaikan gaji ini sejalan dengan pencapaian luar biasa, tekanan tinggi, dan risiko pemecatan yang menghantui setiap keputusan pelatih di era sepak bola modern.
Simone Inzaghi, yang sebelumnya sukses membawa Inter Milan dua kali ke final Liga Champions, memutuskan berpindah ke Al-Hilal dengan kontrak termahal sepanjang sejarah pelatih sepak bola. Keputusannya bukan sekadar pindah klub, tapi lompatan strategis ke liga Arab Saudi yang siap membayar mahal untuk keunggulan taktis. Di sisi lain, Diego Simeone tetap bertahan di Atletico Madrid meski sempat menerima pemotongan gaji pada November 2023, membuktikan nilai historis dan loyalitasnya yang tak ternilai bagi klub ibu kota Spanyol itu.
Mikel Arteta, yang memperpanjang kontraknya dengan Arsenal hingga 2027, menjadi simbol kesabaran manajemen The Gunners yang akhirnya membuahkan hasil: dominasi domestik dan keberhasilan melangkah jauh di Liga Champions. Sementara itu, Oliver Glasner—yang baru saja membawa Crystal Palace menjuarai Liga Konferensi Eropa 2025-2026 dan Piala FA—memilih bergabung dengan Nottingham Forest, bukan klub yang lebih besar, tapi dengan kompensasi yang menjadikannya salah satu pelatih termahal di dunia.
Xabi Alonso, mantan pelatih Bayer Leverkusen yang sukses meraih gelar Bundesliga tanpa kekalahan, kini menjadi manajer termahal di Liga Primer Inggris setelah diikat Chelsea. Meski ini dianggap sebagai perjudian besar oleh kubu The Blues, keputusan itu mencerminkan ambisi baru di bawah kepemilikan Todd Boehly yang tak ragu menggelontorkan dana besar demi keunggulan jangka panjang.
Dengan gaji yang mencapai ratusan miliar rupiah, kelima pelatih ini bukan sekadar pengelola tim, tapi arsitek strategi yang dibayar untuk mengubah tekanan menjadi trofi—dan setiap keputusan mereka kini dipantau dengan intensitas luar biasa.















