Sumbawanews.com,- Gempa bermagnitudo 7,8 mengguncang Pulau Mindanao, Filipina, pada Senin, 8 Juni 2026, pukul 07:37 waktu setempat, menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai lebih dari 130 lainnya. Episentrum gempa berada di kedalaman 10 kilometer, 13 kilometer barat daya General Santos, akibat pergerakan sesar Palung Cotabato—salah satu zona tektonik paling aktif di Cincin Api Pasifik.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. langsung mengeluarkan peringatan darurat, memerintahkan evakuasi massal di sepanjang pesisir karena potensi tsunami. “Pemerintah tidak akan meninggalkan Mindanao,” tegasnya, sambil menekankan bahwa tim penanggulangan bencana telah siap siaga. Ia menyerukan warga untuk segera menuju dataran tinggi: “Nyawa kalian lebih penting daripada rumah atau harta.”
Peringatan tsunami segera dikeluarkan oleh otoritas regional. Indonesia melalui BMKG mencatat gelombang setinggi 83 sentimeter di lepas pantai Sulawesi, sementara Malaysia mengimbau penduduk Sabah untuk menjauhi garis pantai. Meski gelombang tsunami yang teramati tidak besar, risiko tetap diwaspadai di Taiwan, Jepang, Papua Nugini, dan sejumlah negara kepulauan Pasifik.
Teresito Bacolcol, kepala Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina, mengonfirmasi bahwa gempa ini merupakan salah satu yang paling kuat dalam dekade terakhir. “Kami telah melihat video dari lapangan—bangunan runtuh, jalan retak, dan infrastruktur rusak parah,” katanya kepada Associated Press. Di Provinsi Sultan Kudarat, gelombang laut tercatat mencapai satu meter, meski tidak sampai menghancurkan pemukiman.
Gempa susulan berkekuatan 6,5 magnitudo terjadi beberapa jam kemudian, memicu kepanikan tambahan, tetapi juga mempercepat pencabutan peringatan tsunami oleh Pusat Peringatan Dini Tsunami Pasifik (PTWC) di Hawaii. Dalam waktu dua jam, peringatan untuk Guam dan wilayah lainnya dicabut setelah tidak ada ancaman signifikan terhadap Hawaii atau wilayah Pasifik jauh.
Filipina, yang terletak di jalur Cincin Api Pasifik, kerap menjadi sasaran gempa, letusan gunung berapi, dan badai tropis. Setiap tahun, rata-rata 20 bencana alam melanda negara ini. Namun, kekuatan gempa kali ini—setara dengan kejadian besar yang terjadi pada 1976 di Moro Gulf—menjadi ujian terberat bagi sistem tanggap darurat nasional dalam beberapa dekade.
Korban terbanyak berasal dari daerah-daerah terpencil di Mindanao, di mana bangunan tidak memenuhi standar tahan gempa dan akses bantuan masih terbatas. Tim penyelamat dari militer dan organisasi kemanusiaan mulai bergerak, meski jalan-jalan utama rusak dan komunikasi terputus di beberapa wilayah.
Pemerintah Filipina telah membuka rekening kemanusiaan dan meminta bantuan internasional. Sementara itu, negara-negara tetangga, termasuk Indonesia dan Malaysia, siap mengirim bantuan logistik dan tim medis jika diminta.

















