Sumbawa Besar, sumbawanews.com – H.W.Musyafirin, Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) memastikan akan menerapkan pola rekrutmen yang sama untuk rekrutment tenaga kerja smelter berikutnya. Sebab untuk tenaga kerja smelter, diperkirakan membutuhkan sekitar 1.200 orang dan sebelumnya telah diterima sebanyak 145 orang.
“Tetap (pola rekrutmen). Ini kan kita sampai 1.200 orang. Tahap pertama yang kita luluskan masih 245. Tidak ada perubahan (pola), malah nanti (kalau ada perubahan) bisa lebih runyam lagi. Insya Allah tetap,” kata Musyafirin, usai Sidang Terbuka Universitas Samawa (UNSA) Wisuda Sarjana dan Ahli Madya, Minggu (06/11).
Ditegaskan, terdapat perbedaan mendasar antara kegiatan PT.Amman Mineral Industri (AMIN) dengan PT.Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Pembangunan Smelter melalui PT. Amman Mineral Industri (AMIN) hanya berada di KSB dengan Kawasan industry yang telah dibentuk berdasarkan peraturan presiden. Sedangkan PT.Amman Mineral Nusa Tenggara merupakan perusahaan yang melakukan kegiatan pertambangan di Batu Hijau – KSB, dan juga akan melakukan kegiatan di Dodo Rinti – Kabupaten Sumbawa.
“Nggak boleh ngaku-ngaku dulu, belum. Ini jelas-jelas asset KSB. Kalau AMMAN, boleh. Tapi ini kan AMIN, Aman Mineral Industri. Bukan AMMAN. Aman Mineral Industri asli dia untuk mengelola Smelter. Smelter itu hanya ada di Sumbawa Barat dengan Kawasan Industri yang sudah dibentuk berdasarkan Perpres. Dan bukan Sumbawa, tidak ada itu. Itu AMMAN (yang akan mengelola dodo-rinti). (sedangkan) Ini rekrutmen AMIN, bukan AMMAN,” ucap Musyafirin.
Ia mengungkapkan, pola rekrutmen yang dilakukan beberapa waktu lalu, telah diterapkan sebelumnya atau tahun 2016. Dan didalam rekrutmen tersebut tidak ada perlakuan diskriminatif untuk membedakan calon tenaga kerja dari KSB dan dari daerah lain termasuk sumbawa.
“System rekrutmen ini sudah pernah kita terapkan di tahun 2016, Ketika kita itu rekrut untuk McMahon. Itu tidak ada masalah. Dan itupun tidak ada diskriminasi, bahwa ada orang dari sumbawa terus tidak boleh masuk, tidak,” jelas dia.
Ditegaskan, pola rekrutmen tersebut diterapkan untuk menutup pintu praktik-praktik percaloan, dan meminta imbalan kepada calon tenaga kerja dengan mengatasnamakan rekrutmen smelter. “Cuma kita ingin memastikan bahwa tidak ada penyimpangan. Tidak ada pintu-pintu lain, apalagi pintu-pintu lain itu ada pungutan uang dan segala macamnya. Nah itu yang ingin kita pastikan tidak punguntan untuk bisa bekerja disana,” ucapnya.
Musyafirin menjelaskan, dalam proses rekrutmen, digandeng pihak ketiga untuk melakukan pendampingan. Selain itu juga untuk membuat simulasi-simulasi dan instrument untuk melihat kesesuaian antara job yang tersedia dengan kemampuan calon tenaga kerja.
“Jadi mereka bisa melalui tim rekrutmen itu, kemudian kita undang pihak ketiga. Kalau dulu dari UGM, sekarang juga dari UGM untuk mendampingi. Membuat simulasi, membuat instrument-instrumen bagaimana kesesuain dengan job yang dibutuhkan. Nah sehingga alhamdulillh, hasil yang diputuskan tidak ada riak-riak juga,” tuturnya.
Ia mengakui, dalam rekrutmen tersebut, diprioritaskan calon tenaga kerja dai Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Namun tidak menutup ruang dan kesempatan bagi calon tenaga kerja dari daerah lain, seperti Kabupaten Sumbawa. Dan didalam proses rekrutmen, perlakuan yang sama diterapkan kepada calon tenaga kerja dari KSB dan dari luar KSB.
Kemudian, dalam menerapkan dan memutuskan komposisi tenaga kerja local KSB, dilakukan melalui simulasi. “Kalau umpanya simulasi yang dilakukan, misalnya non lokal (dari luar KSB) lulus murni 10 orag. Ketika dia dibawa ke simulasi keberpihakan kepada tenaga lokal, itu kan yang tidak (lulus) paling satu atau dua orang. Itu kan normal itu. Dari 10 kita keluarkan 1-2 orang untuk masyarakat lingkar tambang, itu kan normal,” jelasnya.
Ia memastikan, proses rekrutmen smelter tetap mempertimbangkan keahlian dan hasil tes calon tenaga kerja. “Insya Allah, orang sudah jauh-jauh datang, dia kualified, terus kita ndak luluskan, itu dosa. Itu tidak boleh terjadi. Prinsipnya yang kita dorong, yang penting kalau skillnya dia ada, terus hasil-hasil tesnya itu bagus, insya allah pasti lulus,” jelasnya.
Musyafirin juga memastikan, Pemerintah KSB berpegang pada asas keterbukaan informasi, dan memberikan ruang kepada pihak manapun untuk mencari kejelasan informasi. “Kami terbuka, siapapun bisa datang untuk bertanya. Agar ini tidak menjadi simpang siur,” katanya. (Using)

















