Sumbawanews.com,- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan risiko meningkatnya konflik bersenjata di Sahara Barat setelah misi penjaga perdamaian MINURSO resmi berakhir pada 31 Oktober 2026, setelah 35 tahun beroperasi. Dewan Keamanan PBB gagal memperpanjang mandat misi tersebut setelah Rusia menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan resolusi yang diajukan Amerika Serikat, dengan 11 anggota mendukung dan tiga abstain. Operasi MINURSO dihentikan, dan tim kecil kini sedang menyelesaikan proses penutupan, termasuk pemulangan peralatan militer dan pengawasan pelepasan aset PBB.
Guterres menekankan bahwa berakhirnya misi tidak menghapus hak rakyat Sahara Barat untuk menentukan nasib sendiri, yang tetap diakui sebagai hak mendasar. Ia mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk ketegangan. Perundingan politik untuk menyelesaikan sengketa akan dilanjutkan melalui Utusan Pribadi Sekjen PBB, Staffan de Mistura. Sengketa ini berakar pada 1975, ketika Spanyol menarik diri dari wilayah tersebut, memicu konflik antara Maroko yang menawarkan otonomi luas di bawah kedaulatannya, dan Front Polisario yang menuntut referendum kemerdekaan, didukung oleh Aljazair. Sebanyak 20 personel PBB tewas selama misi berlangsung.















