Sumbawanews.com,- Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa klub dan operator kompetisi I-League wajib bertindak tegas menghentikan maraknya kekerasan yang melibatkan suporter sepak bola Indonesia. Dalam sepekan terakhir, tiga insiden serius terjadi: pada 11 Oktober 2026, bus pemain Persib Bandung U-18 diserang di Rest Area KM 360 Batang; pada 12 Oktober 2026, bus suporter Persija Jakarta menjadi sasaran pelemparan benda keras di Tol Palikanci KM 200, Cirebon; dan pada 25 Oktober 2026, seorang suporter Persib Bandung tewas dibacok usai menyaksikan laga melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Bogor. Erick menekankan bahwa keselamatan penonton harus menjadi prioritas utama agar setiap suporter bisa menyaksikan pertandingan dan pulang ke rumah dengan selamat.
Erick menegaskan, aturan yang sudah ada harus diterapkan tanpa kompromi. “Posisi kami, PSSI jelas bahwa kami meminta liga dan klub-klub untuk bertindak tegas. Itu ada aturan mainnya semua, tidak usah diputar-putar,” ujarnya. Ia menyebut sejumlah klub telah menerapkan larangan suporter tandang untuk laga tertentu sebagai langkah pencegahan, namun menilai bahwa ini belum cukup. “Klub-klub menyadari bahwa ini sebuah kegiatan yang tidak baik buat bangsa kita, ketika ada suporter yang tidak bisa pulang ke rumah dengan selamat,” tegasnya.
PSSI juga mengapresiasi kecepatan kepolisian dalam menangani kasus kriminal di luar stadion, termasuk penangkapan pelaku dalam waktu 24 jam. Erick mengungkapkan telah mengadakan pertemuan tertutup dengan Kapolri Suyudi Ario Seto untuk menyusun komitmen bersama dalam menindak pelaku kejahatan terkait sepak bola. “Mungkin satu hingga dua minggu lagi kami akan umumkan komitmen Kapolri dengan PSSI juga solid, bagaimana menindak para pelaku kriminal itu di luar pertandingan,” katanya.
Ia mengingatkan kembali tragedi Kanjuruhan sebagai peringatan keras bahwa kekerasan tidak bisa ditoleransi. PSSI tidak hanya akan memberi sanksi kepada klub yang gagal menjaga ketertiban, tetapi juga kepada suporter yang terbukti melakukan pelanggaran, termasuk kemungkinan pengurangan poin sesuai regulasi. “Kami, PSSI, tegas. Tidak hanya klubnya yang ditindaklanjuti, suporter juga, bahkan pengurangan poin yang memang harus dijalankan kalau kondisi ini tidak bisa dijaga keharmonisannya seperti yang kami harapkan,” tegas Erick.
Pada musim 2026/2027, suporter tandang kembali diperbolehkan hadir setelah larangan selama tiga tahun. Erick menekankan bahwa kelonggaran ini harus dijaga dengan tanggung jawab bersama. “Kita sudah tiga tahun tidak ada penonton tandang. Sekarang FIFA memberikan kelonggaran untuk baru musim ini. Tentu, hal-hal ini yang saya rasa harus kami pastikan, ini bisa menjadi keteguhan bersama antara liga dan klub, menjaga keharmonisan ini.”















