Home Berita Internasional Pentagon Izinkan Drone Bersenjata Shotgun dan Granat, Tandai Lompatan Taktis Perang Udara...

Pentagon Izinkan Drone Bersenjata Shotgun dan Granat, Tandai Lompatan Taktis Perang Udara Jarak Dekat

Sumbawanews.com,- Pentagon resmi mengizinkan penggunaan drone bersenjata Cerberus MI oleh militer Amerika Serikat, menandai pergeseran strategis dalam perang udara jarak dekat. Drone berbobot 18 kilogram ini, dikembangkan oleh Skyborne Technologies, mampu membawa senapan shotgun kaliber 12-gauge CHAOS atau peluncur granat 40mm HAVOC, dan dirancang untuk diterbangkan berulang kali—bukan sekadar serangan satu arah seperti drone kamikaze. Pencantuman Cerberus MI dalam Blue UAS Cleared List memungkinkan pengadaan dan operasionalnya tanpa pengecualian khusus, meski belum digunakan dalam pertempuran aktif. Platform ini menggabungkan sensor elektro-optik, inframerah, laser, dan kecerdasan buatan EXITUS AI untuk membantu operator menentukan sasaran, dengan keputusan menembak tetap di tangan manusia.

Cerberus MI diklasifikasikan sebagai Group 2 UAS, sehingga dapat diangkut dan diluncurkan oleh personel tanpa infrastruktur besar. Desainnya mempertimbangkan stabilitas saat senjata ditembakkan, dengan amunisi yang menggunakan standar militer yang sudah ada di rantai pasokan pertahanan AS, memudahkan logistik. Drone ini mampu terbang hingga 35 menit saat membawa senjata dan dapat menembak dari jarak lebih dari 300 meter, meski efektivitasnya bergantung pada jenis amunisi, kondisi lingkungan, dan karakteristik sasaran—belum diuji secara independen dalam medan perang sejati. Shotgun cocok untuk target jarak dekat, sementara peluncur granat memperluas kemampuan serangan terhadap struktur atau kelompok di area terbuka.

Sistem kecerdasan buatan EXITUS AI membantu mengidentifikasi dan melacak sasaran dengan mengolah data dari berbagai sensor, tetapi tidak mengambil keputusan menembak secara otonom. Skyborne menekankan pendekatan human-in-the-loop, di mana operator tetap menjadi penentu akhir dalam penggunaan kekuatan senjata. Keterbatasan teknologi dalam kondisi nyata—seperti gangguan komunikasi, cuaca buruk, atau kekacauan elektronik—masih menjadi tantangan signifikan. Belum ada laporan pengujian independen yang mengonfirmasi akurasi sistem dalam skenario pertempuran kompleks, termasuk kemampuannya membedakan target militer dari warga sipil atau objek non-sasaran sesuai hukum perang.

Previous articleiPad Mini 8 Meluncur dengan Layar OLED, Ungguli Generasi Sebelumnya
Next articlePengurus IMI Pusat Lakukan Visitasi Sirkuit di Sumbawa, Pastikan Kesiapan Venue Grasstrack PON 2028