Home Berita Internasional Kanada Gencar Cari Alternatif Teknologi Militer Usai Gangguan Starlink

Kanada Gencar Cari Alternatif Teknologi Militer Usai Gangguan Starlink

Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Kanada Mark Carney memperingatkan risiko ketergantungan pada satu penyedia teknologi strategis, menyusul pembatasan layanan komunikasi satelit Starlink dan Starshield yang mengganggu operasi militer Ukraina. Peringatan itu disampaikan Carney di Istanbul pada Jumat, 23 Oktober 2026, saat ia memperdalam kerja sama pertahanan dengan Turki, termasuk dalam pengembangan pesawat nirawak, teknologi otonom, dan sistem pertahanan canggih. Ia mengecam keputusan yang membatasi akses komunikasi militer Ukraina saat negara itu masih berjuang melawan invasi Rusia, menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan dan keselamatan sipil. Carney menegaskan, Kanada tidak boleh membiarkan keamanan nasionalnya rentan terhadap kebijakan perusahaan swasta yang bisa berubah sewaktu-waktu akibat tekanan politik.

Kontroversi bermula ketika laporan dari The Wall Street Journal menyebut Elon Musk, pemilik SpaceX, memerintahkan pembatasan kecepatan layanan Starshield yang digunakan militer Ukraina. Pembatasan itu diklaim menyebabkan gangguan komunikasi dan kehilangan drone saat beroperasi dengan kecepatan di atas 160 kilometer per jam. Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menghubungi Musk untuk meminta pencabutan pembatasan, laporan Reuters menunjukkan keterlibatan lingkungan Gedung Putih dalam proses pengambilan keputusan—tanpa ada konfirmasi resmi siapa yang benar-benar memerintahkan tindakan tersebut. Hingga Sabtu, 24 Oktober 2026, belum ada pengakuan tunggal yang menjelaskan mekanisme teknis atau tanggung jawab penuh atas pembatasan itu.

Pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan Ukraina mengumumkan bahwa kecepatan koneksi Starlink dan Starshield telah kembali normal, dengan sistem pemantauan mencatat stabilitas sinyal pada perangkat bergerak dengan kecepatan lebih dari 400 kilometer per jam. Namun, belum ada konfirmasi menyeluruh mengenai dampak operasional terhadap seluruh satuan militer, jumlah drone yang terganggu, atau wilayah yang sempat kehilangan koneksi. Pemulihan teknis ini tidak menghapus kekhawatiran mendasar: sistem pertahanan modern tetap rentan jika bergantung pada infrastruktur yang dikendalikan oleh entitas swasta di luar kendali negara pengguna.

Previous articleArda Guler Melejit di Bawah Mourinho, Siap Jadi Kunci El Clasico
Next articleDandhy Laksono Dipanggil Polisi Terkait Film Pesta Babi