Sumbawanews.com,- Rusia semakin mengandalkan drone serang bermesin jet Geran-4 dan Geran-5 dengan kecepatan hingga 600 kilometer per jam untuk menembus pertahanan udara Ukraina, memaksa Kyiv menghadapi tantangan baru dalam menangkal serangan yang kini jauh lebih cepat dan lebih tinggi. Laporan Ukrainska Pravda pada 21 Oktober 2026 mengungkapkan bahwa operator pertahanan udara Ukraina terpaksa membiarkan sejumlah drone melintas karena kecepatan dan ketinggian penerbangannya melampaui kemampuan drone pencegat konvensional yang tersedia. Komandan batalion pertahanan udara Ukraina dengan nama panggilan Ramses mengatakan satu drone terdeteksi bergerak pada kecepatan sekitar 500 km/jam, sehingga unitnya memutuskan tidak mengejar karena perangkat pencegatnya tidak mampu mengejar atau menghancurkan sasaran. Drone-dron ini juga kini dikirim secara bergelombang dengan interval 20–30 menit, bukan dalam formasi besar seperti drone Shahed sebelumnya, guna mempertahankan tekanan berkelanjutan terhadap sistem pertahanan Ukraina.
Perkembangan ini didukung oleh perluasan infrastruktur peluncuran Rusia, termasuk pembangunan fasilitas baru seluas 0,9 kilometer persegi di dekat Millerovo, Rostov, yang terdeteksi melalui citra satelit pada 15 Oktober 2026. Fasilitas ini diperkirakan digunakan untuk meluncurkan Geran-4 dan Geran-5, menunjukkan peningkatan signifikan dalam investasi Rusia terhadap serangan jarak jauh berbasis drone. Geran-4 memiliki kecepatan operasional 350–500 km/jam, sementara Geran-5, yang dirancang dengan bentuk menyerupai rudal jelajah, mampu mencapai 500–600 km/jam—jauh lebih cepat dari versi piston pendahulunya seperti Geran-2 yang hanya berkecepatan rendah. Perubahan ini membuat drone pencegat Ukraina yang dirancang untuk mengejar sasaran lambat menjadi tidak efektif, karena peluang pencegatan kini sangat bergantung pada waktu deteksi dan posisi strategis.
Selain kecepatan, ketinggian penerbangan menjadi faktor krusial. Drone Geran-4 dan Geran-5 terbang pada ketinggian 5.000 hingga 8.000 meter, di luar jangkauan efektif sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) dan senapan mesin berat yang selama ini andalan pasukan darat Ukraina. Meskipun pesawat tempur dan rudal antipesawat tertentu masih mampu menghadapi ancaman ini, keterbatasan jumlah senjata yang mampu mengejar sasaran berkecepatan tinggi membuat Ukraina kesulitan menjaga pertahanan udara secara konsisten di seluruh wilayah yang luas. Analisis International Institute for Strategic Studies pada Januari 2026 menyatakan bahwa perubahan strategi Rusia ini secara langsung merespons efektivitas pertahanan antidrone Ukraina yang semakin meningkat, dengan kecepatan tinggi menjadi cara utama untuk menghindari intersepsi dan mempersingkat waktu reaksi.















