Sumbawanews.com,- Kerajaan Majapahit, yang mencapai puncak kejayaan pada masa Raja Hayam Wuruk dan mahapatih Gajah Mada, meninggalkan sejumlah warisan arkeologis yang masih dapat dilihat hingga kini. Di antaranya adalah Candi Bajang Ratu di Trowulan, Mojokerto, yang berbentuk gapura paduraksa dengan relief Ramayana dan ornamen naga, diduga dibangun untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara, bukan sebagai makam, melainkan sebagai akses menuju kompleks suci. Gapura ini dipugar pada 1989–1992 dan termasuk dalam kawasan cagar budaya Trowulan yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 260/M/2013.
Selain Candi Bajang Ratu, peninggalan lainnya mencakup prasasti-prasasti kuno yang menjadi sumber informasi tentang tata pemerintahan, perdagangan, dan kepercayaan masa itu. Beberapa di antaranya adalah Prasasti Trowulan, Prasasti Gajah Mada, dan Prasasti Sukamerta, yang memuat catatan tentang peristiwa politik, pemberian tanah, serta ritual keagamaan. Bangunan-bangunan lain seperti Candi Tikus dan Balai Baling juga menjadi bukti kecanggihan arsitektur dan tata kota Majapahit yang terencana.
Kawasan Trowulan, yang kini menjadi pusat penelitian arkeologi, masih menyimpan ratusan sisa struktur batu, saluran air, dan fondasi bangunan yang menggambarkan kehidupan urban yang maju pada abad ke-14. Meski banyak artefak telah hilang atau rusak, sisa-sisa peninggalan ini tetap menjadi jendela penting untuk memahami kebesaran peradaban Hindu-Buddha tertinggi di Nusantara.















