Home Berita Olah Raga Ten Hag Buka Suara soal Konflik dengan Ronaldo di MU

Ten Hag Buka Suara soal Konflik dengan Ronaldo di MU

Sumbawanews.com,- Erik ten Hag, pelatih Manchester United dari April 2022 hingga Oktober 2024, mengungkapkan bahwa konflik dengan Cristiano Ronaldo bukan sekadar ketidakcocokan taktis, melainkan persoalan disiplin dan profesionalisme. Konflik memuncak setelah Ronaldo menolak masuk sebagai pemain pengganti dalam laga melawan Tottenham Hotspur pada Oktober 2022, yang berujung pada pencoretannya dari skuad saat menghadapi Chelsea. Hubungan keduanya semakin renggang setelah Ronaldo dalam wawancara bersama Piers Morgan menyatakan merasa dikhianati dan tidak dihormati oleh Ten Hag, hingga akhirnya Ronaldo hengkang ke Al-Nassr pada akhir 2022.

Ten Hag menegaskan bahwa Ronaldo sering mengundurkan diri dari sesi latihan, gagal mencapai target denyut jantung yang ditetapkan, dan tidak menyelesaikan porsi lari yang diinstruksikan setelah kekalahan 0-4 dari Brentford pada Agustus 2022. “Saya mengonfrontasinya mengenai hal ini. Sering kali saya katakan, ‘Ronnie, semua orang ingin bekerja untuk membawamu ke posisi yang tepat, tetapi jika kamu sendiri tidak bisa berada di dalam kotak penalti, kamu tidak bisa mencetak gol,’” ujar Ten Hag, dikutip dari Sportbible pada 20 Oktober 2026. Ia menolak anggapan bahwa dirinya menuntut Ronaldo melakukan pressing tinggi hingga kelelahan, menegaskan bahwa masalahnya justru pada ketidakmampuan Ronaldo untuk berlari—baik saat menguasai bola maupun tanpa bola—karena ia tidak mempersiapkan diri secara memadai.

Selain itu, Ten Hag menyoroti pengaruh negatif Ronaldo terhadap pemain muda di kamar ganti. Menurutnya, Ronaldo pernah menyarankan rekan-rekannya untuk “menyimpan tenaga saat latihan,” sebuah sikap yang dinilai bertentangan dengan budaya profesionalisme tim. “Setiap tim papan atas harus merangkul pemain bintangnya, tetapi pemain bintang tersebut juga harus bekerja untuk tim,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa meski pemain berpengalaman boleh menghemat energi jika sudah dalam kondisi bugar, hal itu hanya sah setelah mereka terlebih dahulu mencapai tingkat kebugaran yang dibutuhkan—sesuatu yang, menurut Ten Hag, tidak dilakukan Ronaldo.

Konflik ini menjadi simbol perbedaan filosofi antara era legenda yang mengandalkan insting dan era modern yang menuntut disiplin sistemik—sebuah ketegangan yang akhirnya mempercepat perpisahan salah satu pemain terbesar dalam sejarah Manchester United.

Previous articleIndonesia Bangkit di Dunia Olahraga: Prestasi, Regulasi, dan Karakter Pemuda di Era Prabowo
Next articleKaum Tengah Cari Penghasilan Tambahan? Ini 5 Aplikasi Bermodal HP