Sumbawanews.com,- Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Indonesia mencatat lompatan signifikan dalam tata kelola olahraga, prestasi atlet, dan pembangunan karakter pemuda dalam dua tahun terakhir. Transformasi besar-besaran dimulai dengan penyederhanaan 191 Peraturan Menpora menjadi hanya empat regulasi inti, memangkas 60 persen pasal dari 1.500 menjadi sekitar 600, sekaligus mengubah olahraga dari beban anggaran menjadi investasi strategis bagi perekonomian nasional. Prestasi atlet pun meledak di kancah internasional, dari SEA Games hingga Asian Games, sementara pembinaan pemuda diarahkan pada tiga nilai utama: patriotik, gigih, dan empatik.
Pada SEA Games Thailand 2025, Indonesia meraih peringkat dua dengan 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu—capaian terbaik sejak 1995. Lifter Rizki Juniansyah memecahkan dua rekor dunia angkat besi kelas 79 kg dengan angkatan clean and jerk 205 kg dan total 365 kg, sementara atlet atletik Diva Renata Jayadi mencatat rekor SEA Games dan nasional di lompat galah dengan ketinggian 4,35 meter. Di ASEAN Para Games Thailand 2025, kontingen Indonesia meraih 135 emas dan 393 medali secara keseluruhan, dengan Taufik Abdul Karim dan Harsanto Mutiara Cantik mencatat rekor di lari 100m/200m T11 dan renang 100m gaya dada SB9.
Di sepak bola, Indonesia menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Si Jalak Harupat, dan keluar sebagai juara setelah mengalahkan Thailand lewat adu penalti pada 5 Oktober 2026—kemenangan pertama yang menjadi tonggak kebangkitan sepak bola nasional. Pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Indonesia melampaui target dengan meraih lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu, semuanya dari cabang prioritas Olimpiade: bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Nurisa Dian Ashrifah menyumbang emas pertama Indonesia di panahan sepanjang sejarah keikutsertaan di Asian Games. Rahmat Erwin Abdullah mencatat enam rekor dunia, Asia, dan Asian Games melalui dua angkatan angkat besi, sementara Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Aditya Tri Syahri menyumbang tiga rekor di panjat tebing.
Transformasi tidak berhenti di prestasi. Kemenpora sedang menyusun Cetak Biru Kepemudaan Nasional dan Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda 2028, dengan fondasi nilai patriotik, gigih, dan empatik. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, federasi olahraga, dan sektor swasta diperkuat untuk menjadikan pembinaan pemuda sebagai gerakan nasional berkelanjutan, bukan sekadar program seremonial.
“Kita tidak ingin keberhasilan hanya datang sesekali. Prestasi harus dibangun melalui sistem yang konsisten,” tegas Erick Thohir. Ia menegaskan, ukuran keberhasilan bukan hanya jumlah medali, tetapi seberapa kuat sistem yang dibangun untuk terus melahirkan juara dan generasi muda yang mampu membawa Indonesia maju. Semua langkah ini merupakan wujud nyata komitmen Kemenpora menerjemahkan visi Presiden Prabowo Subianto membangun sumber daya manusia unggul dan memperkuat daya saing bangsa melalui olahraga dan kepemudaan.















