Sumbawanews.com,- Pemerintah Prancis menutup seluruh sekolah menengah atas (SMA) selama sepekan menyusul gelombang protes pelajar yang meluas ke berbagai wilayah. Keputusan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Sébastien Lecornu sebagai respons atas aksi blokade di hampir 2.000 sekolah, di mana ratusan ribu pelajar turun ke jalan menuntut reformasi pendidikan. Demonstrasi, yang bermula dua pekan lalu di pinggiran Paris, kini telah menyebar ke kota-kota besar seperti Marseille, Lyon, dan Strasbourg, dengan sejumlah insiden kekerasan terjadi antara demonstran dan polisi. Pemerintah menyatakan penutupan sekolah bertujuan memberi ruang bagi “demokrasi internal” di lingkungan sekolah, sambil berjanji menanggapi tuntutan pelajar hingga akhir Oktober.
Aksi protes dipicu oleh tuntutan spesifik seperti penggantian guru yang tidak hadir, perpanjangan waktu istirahat makan siang, dan perubahan durasi jam sekolah. Polisi menembakkan gas air mata di beberapa lokasi, sementara demonstran membakar benda di jalan dan melemparkan proyektil. Di Lens, seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan tangan dan sebagian lengannya setelah mengambil granat polisi yang dilempar. Kementerian Dalam Negeri mencatat 6.100 orang ditangkap sejak aksi dimulai, dengan lebih dari 1.800 orang di antaranya akan dituntut, termasuk 1.483 anak di bawah umur. Sedikitnya 215 remaja dan 715 polisi terluka dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
Serikat pelajar melaporkan hampir 2.000 SMA diblokade atau ditutup selama satu hari. Lebih dari itu, sejumlah serikat pekerja—termasuk petani, pekerja energi, dan guru—turut bergabung mendukung aksi, sementara orang tua khawatir aksi damai disusupi kekerasan dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat. Di Strasbourg, Hugo Vetzel, lulusan SMA yang bersiap masuk universitas, menyatakan, “Ketika jawabannya adalah kekerasan, itu berarti demokrasi tidak lagi bekerja.” Ia menambahkan, “Ada kesenjangan yang begitu besar antara para elite dan kami.”
Pemerintah berjanji mengkaji perbaikan gedung sekolah lama, namun muncul keraguan atas ketersediaan anggaran di tengah krisis fiskal. Jurnalis Natacha Butler dari Al Jazeera menyoroti pertanyaan krusial: “Dari mana uang itu berasal untuk memasukkan anggaran ke layanan publik?” Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaitkan protes ini dengan migrasi massal dan Islam, tanpa menyajikan bukti, dalam unggahan di Truth Social. Ia menyebut situasi di Prancis sebagai akibat “Islam yang ingin mengambil alih negara yang pernah besar,” pernyataan yang dinilai memperkuat narasi Islamofobia di kalangan sayap kanan.















