Sumbawanews.com,- AS Roma dikabarkan kembali mempertimbangkan merekrut Wilfried Zaha sebagai opsi pemain bebas transfer pada awal September 2026, menyusul kegagalan mereka mendatangkan pemain sayap kiri alami selama jendela transfer musim panas 2026. Pemain berusia 33 tahun itu kini resmi bebas transfer setelah kontraknya dengan Galatasaray berakhir pada 30 Juni 2026, dan menjadi pilihan strategis bagi direktur olahraga Tony D’Amico untuk memenuhi kebutuhan lini serang sesuai permintaan pelatih Gian Piero Gasperini. Zaha sebelumnya juga menjadi target Roma pada 2023 di masa kepelatihan Jose Mourinho.
Zaha, eks pemain Crystal Palace dan Manchester United, membawa pengalaman tingkat atas dengan 458 penampilan bersama Crystal Palace dan 90 gol di semua kompetisi—termasuk 68 gol di Liga Premier Inggris. Ia bergabung dengan Galatasaray pada Juli 2023 setelah menolak perpanjangan kontrak senilai £200.000 per minggu dari Crystal Palace, yang ingin menjadikannya pemain dengan gaji tertinggi dalam sejarah klub. Kontrak tiga tahunnya di Turki berakhir tepat pada 30 Juni 2026, setelah sebelumnya menjalani masa pinjaman selama 18 bulan di Charlotte FC, MLS.
Meski minat Roma terhadap Zaha kembali menguat, klub menghadapi hambatan teknis: regulasi UEFA melarang pendaftaran pemain baru hingga 4 Februari 2027, sehingga Zaha tidak bisa langsung tampil di kompetisi Eropa jika direkrut sebelum batas waktu tersebut. Selain Zaha, D’Amico juga mengevaluasi sejumlah opsi lain di pasar bebas transfer, termasuk Raphael Guerreiro—mantan sayap serbaguna Borussia Dortmund dan Bayern Munich—serta Krepin Diatta, pemain berusia 27 tahun yang dikenal lincah di sayap.
Kegagalan Roma memperkuat posisi sayap kiri pada transfer musim panas lalu menjadi pemicu utama pencarian solusi darurat, terutama setelah pelatih Gasperini menekankan kebutuhan akan kedalaman dan pengalaman di sisi serang. Dengan reputasi Zaha sebagai pemain yang tetap produktif meski memasuki usia matang, nama sang penyerang asal Pantai Gading kembali menjadi sorotan di Roma sebagai solusi realistis di tengah keterbatasan anggaran dan regulasi.















