Sumbawanews.com,- Timnas Indonesia, dibawah asuhan pelatih John Herdman, bersiap memulai perjalanan di Premier Division FIFA ASEAN Cup 2026, yang berlangsung dari 24 September hingga 4 Oktober 2026, dengan laga kandang sebagai panggung utama. Turnamen perdana ini menjadi ujian berat setelah kegagalan di Piala AFF 2026, di mana Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam dan gagal melangkah ke semifinal. Dengan format tanpa babak semifinal, setiap pertandingan fase grup menjadi penentu langsung ke final, sehingga setiap poin harus diraih tanpa kompromi.
Tekanan meningkat tajam setelah kekalahan telak dari Vietnam di Stadion Pakansari pada 3 Agustus 2026, yang memicu kritik publik terhadap performa tim dan keputusan manajemen. Meski sebelumnya tim menunjukkan progres positif melalui hasil uji coba di FIFA Series Maret dan Matchday Juni 2026, kegagalan di Piala AFF 2026 menggoyang kepercayaan suporter dan memperberat beban Herdman. Kekalahan itu bukan hanya soal skor, tapi juga mengungkap kerapuhan mental tim dalam menghadapi lawan tangguh di kancah regional.
Kondisi kandang yang menjadi andalan justru menjadi dilema. Timnas Indonesia terlalu sering bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Si Jalak Harupat dalam beberapa bulan terakhir, sehingga pengalaman bertanding di kandang lawan minim. Padahal, meski FIFA ASEAN Cup 2026 digelar di Indonesia, kesiapan menghadapi tekanan atmosfer tandang tetap penting untuk masa depan. Kekhawatiran muncul bahwa ketergantungan pada dukungan suporter lokal bisa menimbulkan kejenuhan, baik bagi pemain maupun penonton, jika hasil tidak sesuai harapan.
Format kompetisi yang unik menjadi tantangan tersendiri: tidak ada babak semifinal, hanya juara grup yang berhak maju ke final. Artinya, setiap laga fase grup adalah pertandingan hidup-mati. Timnas Indonesia tidak diperkenankan mengantongi satu poin pun dari kekalahan jika ingin bersaing untuk gelar. Dengan lawan-lawan kuat yang kemungkinan besar akan bersaing di grup yang sama, kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Persiapan teknis, mental, dan strategis harus berjalan paralel—karena di turnamen ini, tidak ada ruang untuk salah langkah.















