Sumbawanews.com,- Setelah tiga dekade membeku di ketinggian 8.500 meter Gunung Everest, jasad pendaki India Dorje Morup, yang dikenal sebagai “Green Boots”, akan segera dievakuasi dan dibawa pulang ke tanah air. Morup, seorang kopral di Indo Tibetan Border Police (ITBP), tewas pada 10 Mei 1996 saat turun dari puncak Everest bersama dua rekannya dalam ekspedisi bersejarah yang menempuh rute sisi China. Jasadnya, teridentifikasi melalui pakaian dan perlengkapan pendakian serta lokasi komunikasi radio terakhir, kini menjadi fokus misi evakuasi ekstrem yang direncanakan ITBP untuk September 2026.
Morup adalah salah satu dari ratusan pendaki yang jasadnya masih tertinggal di Everest, terutama di zona kematian—wilayah dengan suhu minus 40 derajat Celsius dan oksigen hanya sepertiga dari permukaan laut. Evakuasi jasad di sisi China, tempat Morup berada, jauh lebih sulit dibanding sisi Nepal karena tidak ada akses helikopter dan medan yang lebih curam. Tim yang akan menjalankan misi ini harus terdiri dari 10 hingga 12 pendaki berpengalaman untuk memasang tali pengaman, mengangkut jasad yang membeku dan beratnya berkali-kali lipat dari berat normal, serta membawanya ke ketinggian yang memungkinkan transportasi lebih lanjut. Proses ini diperkirakan memakan biaya hingga 80.000 dolar AS.
Istri Morup, Konchak Yangskit, yang kini berusia 75 tahun, belum pernah menerima kenyataan kepergiannya. “Saya tidak pernah melihat jasadnya, jadi sulit bagi saya untuk mempercayainya,” katanya. Meski telah mengadakan upacara kremasi simbolis, ia tetap berharap suaminya akan kembali. Putra Morup, Punchok Dorjai, berencana memakamkan ayahnya di dekat Martyrs Park di Leh, Ladakh, dan menyimpan sepatu hijau ikonik itu sebagai kenangan. Sertifikat dari pemerintah China yang menyatakan Morup mencapai puncak pada 17.30, 10 Mei 1996, akan menjadi bukti keberaniannya.
Sebelum jasadnya diserahkan ke keluarga, akan dilakukan tes DNA untuk memastikan identitasnya. ITBP menegaskan bahwa misi ini bukan hanya soal penghormatan, tapi juga penutupan duka yang telah berlangsung selama 30 tahun. “Kami tidak pernah melupakannya. Hanya masalah waktu,” kata seorang pejabat ITBP.















