Sumbawanews.com,- PSIM Yogyakarta memutuskan tidak merekrut kiper asing untuk menghadapi BRI Super League 2026/2027, dan tetap mempercayakan posisi penjaga gawang utama kepada Cahya Supriadi. Pelatih Jean-Paul van Gastel secara tegas membantah rumor yang beredar, menegaskan bahwa pemain berusia muda itu akan menjadi pilar utama tim di musim depan. Cahya, yang lahir di Karawang dan pernah membela Persija Jakarta, kini juga menjadi bagian dari Timnas Indonesia di Piala AFF 2026. Van Gastel menilai perkembangan teknis dan mental Cahya terus meningkat, sehingga keputusan mempertahankannya adalah pilihan strategis yang sejalan dengan visi jangka panjang klub.
Van Gastel, pelatih berlisensi UEFA Pro yang pernah menjadi asisten di Besiktas, menegaskan bahwa tidak ada rencana mendatangkan pengganti dari luar negeri. “Saya mendengar ada rumor bahwa kita akan mendatangkan kiper asing, tetapi bukan itu yang akan kita lakukan. Kita akan mempertahankan Cahya karena kita memiliki rasa percaya kepadanya,” ujarnya. Ia menambahkan, “Untuk membawa kiper asing menggantikan Cahya? Tidak, tidak. Saya tidak akan mendatangkan kiper asing. Saya akan mempertahankan Cahya, jadi bagi saya tidak ada lagi bahan diskusi.”
Performa Cahya yang konsisten di lapangan, termasuk saat tampil melawan Persebaya Surabaya pada 8 Agustus 2025 di Stadion Gelora Bung Tomo, menjadi bukti nyata dari peningkatan kualitasnya. Van Gastel menyebut bahwa penampilan sang kiper telah menarik perhatian klub-klub besar di liga, namun ia menegaskan bahwa Cahya tetap menjadi bagian dari proyek besar PSIM. “Saya pikir di masa depan dia mungkin bisa menjadi kiper utama tim nasional,” kata pelatih asal Belanda itu. Dengan usia muda dan pengalaman di klub top seperti Persija, Cahya dianggap memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh—dan PSIM berkomitmen untuk membangun masa depannya bersama tim.
Dengan keputusan ini, PSIM Yogyakarta menunjukkan keyakinan pada pemain lokal yang berkembang, sekaligus menolak pendekatan instan dengan mendatangkan eksportir asing. Strategi ini tidak hanya memperkuat tim, tetapi juga menjadi simbol komitmen terhadap pembinaan bakat Indonesia.















