Sumbawanews.com,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini akan lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan puncaknya terjadi pada Agustus hingga September 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, sebanyak 48,77 persen wilayah daratan Indonesia—setara 437 zona musim—berpotensi mengalami durasi kemarau lebih panjang dari normal, disertai curah hujan di bawah rata-rata. Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Niño kuat dengan indeks Niño 3.4 mencapai +2,26, yang menghambat pembentukan awan hujan dan memperdalam kekeringan. Hingga 28 Juli 2026, BMKG mencatat 4.900 titik panas (hotspot), terutama di Kalimantan Barat, Riau, Papua Selatan, Aceh, dan Kalimantan Timur, menjadi indikasi awal meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Krisis air bersih akibat curah hujan yang minim telah melanda sejumlah kabupaten di Pulau Jawa, berdampak pada belasan ribu jiwa. Untuk mengatasi dampak hidrometeorologi, BMKG telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah, dengan rencana penambahan posko OMC di wilayah rawan lainnya. Pendanaan operasi ini didukung oleh Kementerian Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BMKG juga memperkirakan, setelah puncak kemarau, sebagian wilayah akan memasuki periode curah hujan tinggi pada Oktober hingga November, meski sebagian besar wilayah Indonesia pada dasarian pertama Agustus 2026 diprediksi masih didominasi kategori curah hujan rendah, tanpa ada wilayah yang mengalami hujan kategori tinggi atau sangat tinggi.















