Sumbawanews.com,- Amerika Serikat mengizinkan Arab Saudi mengembangkan teknologi pengayaan uranium dalam kerja sama nuklir sipil, memicu kekhawatiran serius dari Israel. Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett memperingatkan bahwa kesepakatan ini, yang dirancang tanpa melibatkan Israel, dapat memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan dan membahayakan keamanan nasionalnya. Kesepakatan tersebut, yang ditandatangani kedua negara di Riyadh tahun lalu, kini akan diajukan ke Kongres AS dan mencakup transfer teknologi nuklir AS berdasarkan Pasal 123 Undang-Undang Energi Atom 1954, serta perjanjian pengamanan bilateral. Departemen Energi AS menyebut kesepakatan ini sebagai langkah bersejarah yang menegaskan komitmen terhadap keselamatan nuklir dan non-proliferasi, sambil menekankan bahwa Arab Saudi akan menjadi sekutu strategis yang memilih bekerja sama dengan AS daripada negara lain dalam program nuklir sipilnya. Meski tidak secara eksplisit menyebut pengayaan uranium dalam pernyataan resmi, sejumlah laporan mengindikasikan bahwa kesepakatan itu memungkinkan Saudi melakukan pengayaan uranium di dalam negeri, alih-alih mengimpor bahan bakar nuklir dari AS.















