Sumbawanews.com,- Peneliti Pusat Riset Biosistematik dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Onny Nurrahman Marwayana, berhasil mendeteksi keberadaan ikan purba coelacanth di perairan Indonesia menggunakan metode eDNA Metabarcoding. Sampel air diambil dari sejumlah titik strategis—Bunaken, Siladen, Manado Tua, Kepulauan Gangga (Lingga, Gangga, Tindila, Talise), dan Waigeo di Raja Ampat—yang sebelumnya pernah menjadi lokasi penemuan spesies ini. Sampel tersebut difilter untuk mengekstrak DNA lingkungan, lalu diamplifikasi dengan primer spesifik yang hanya menargetkan fragmen DNA coelacanth Indonesia. Hasil sequencing menunjukkan kesamaan mutlak dengan data referensi di GenBank, mengonfirmasi keberadaan spesies tersebut di lokasi sampling.
Coelacanth, yang sempat dianggap punah hingga ditemukan kembali di perairan Afrika pada 1939, pertama kali tercatat di Indonesia melalui penemuan di pasar ikan Manado pada 1999. Sejak itu, keberadaannya terdokumentasikan di Taman Nasional Laut Bunaken, Sulawesi Utara, serta sekitar Talise, Amurang, dan Kepulauan Gangga pada 2018, dan paling baru di perairan Pulau Siladen pada akhir Juni 2026. Menurut Onny, makin seringnya penemuan ikan ini menandakan bahwa habitat mesofotiknya masih stabil, memungkinkan populasi bertahan dalam ekosistem laut dalam. Namun, ia menekankan bahwa peningkatan visibilitas spesies langka tidak selalu berarti perbaikan ekosistem—bisa jadi akibat gangguan manusia seperti pembabatan hutan ilegal dan penangkapan ikan berlebihan yang memaksa satwa keluar dari zona aman mereka.
Onny menegaskan, upaya terbaik untuk mencegah kepunahan kembali adalah menjaga keaslian habitat alami tanpa intervensi destruktif. Selain itu, ia menyoroti pentingnya studi berkelanjutan dan pemantauan populasi melalui metode non-invasif, seperti eDNA Metabarcoding, yang tidak mengganggu keberadaan atau jumlah individu spesies di alam. Teknologi ini merevolusi studi keanekaragaman hayati dengan memanfaatkan DNA yang dilepaskan organisme ke lingkungan, lalu mengidentifikasi spesiesnya melalui pembandingan sekuens dengan database referensi global.















