Sumbawanews.com,- Pada 5 Juli 1975, Arthur Ashe menjadi petenis pria kulit hitam pertama yang memenangkan gelar tunggal putra Wimbledon setelah mengalahkan juara bertahan Jimmy Connors dengan skor 6–1, 6–1, 5–7, 6–4 di Centre Court, London. Kemenangan ini tidak hanya menandai puncak karier atlet asal Richmond, Virginia, Amerika Serikat, tetapi juga menjadi simbol penting dalam perjuangan melawan diskriminasi rasial di dunia olahraga internasional. Ashe, yang berusia 31 tahun saat itu, langsung mendominasi pertandingan dengan permainan disiplin dan konsisten, memenangkan dua set awal tanpa memberi peluang signifikan kepada Connors. Meski Connors sempat bangkit dengan merebut set ketiga, Ashe tetap tenang di set terakhir dan menutup pertandingan dengan pukulan penentu saat unggul 40–15.
Connors, yang sebelumnya dianggap sebagai favorit mutlak, mengakui keunggulan lawannya dengan mengatakan, “Saya tidak bisa menemukan celah. Semua yang dia lakukan sangat baik.” Kemenangan Ashe mengukir sejarah sebagai kelanjutan dari jejak Althea Gibson, petenis putri kulit hitam pertama yang menjuarai Wimbledon pada 1957 dan 1958. Pertandingan itu disaksikan oleh sejumlah tokoh tenis, termasuk ibu Connors, Gloria, manajernya Bill Riordan, dan sahabatnya Ilie Năstase. Tidak ada kutipan langsung lain yang disebutkan dalam sumber selain pernyataan Ashe dan Connors.















