Sumbawanews.com,- Prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei dirancang sebagai perjalanan spiritual dan politik yang melintasi enam lokasi bersejarah di Iran dan Irak, menggambarkan kedalaman pengaruhnya sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran. Rangkaian upacara dimulai di Grand Mosalla, Teheran, kompleks ibadah sekaligus pusat simbolik kekuasaan negara, tempat ribuan pelayat memberikan penghormatan terakhir pada 4 Juli 2026. Di sana, keagamaan dan politik menyatu—tempat yang selama puluhan tahun menjadi panggung pidato negara, perayaan nasional, dan representasi persatuan umat di bawah sistem pemerintahan ulama.
Dari Teheran, peti jenazah dibawa menuju Qom, kota yang menjadi jantung pendidikan Syiah dan tempat lahirnya sebagian besar ulama Iran. Di sini, prosesi bukan sekadar ziarah, tapi pengakuan atas fondasi keilmuan yang menopang otoritas Khamenei. Kota ini juga rumah bagi Mausoleum Fatimah Masumeh, salah satu situs paling suci dalam tradisi Syiah, memperkuat kedekatan spiritual antara pemimpin dan para peziarah.
Perjalanan kemudian menyeberang ke Irak, berhenti di Karbala, kota tempat Imam Hussein gugur dalam perlawanan abad ke-7 terhadap ketidakadilan. Di sana, simbol pengorbanan, keteguhan, dan perlawanan terhadap tirani menjadi pusat narasi upacara—mengaitkan perjalanan hidup Khamenei dengan warisan spiritual yang membentuk ideologi Republik Islam.
Selanjutnya, prosesi berlanjut ke Najaf, pusat keilmuan Syiah global dan makam Hazrat Ali, tokoh paling dihormati dalam tradisi Syiah. Kehadiran di Najaf menegaskan bahwa pengaruh Khamenei tidak terbatas pada batas negara, tapi menyentuh komunitas Syiah di seluruh dunia, menjadikan pemakamannya sebagai peristiwa transnasional.
Puncak perjalanan terjadi di Mashhad, kota kelahiran Khamenei dan tempat ia menghabiskan masa muda, serta lokasi Kompleks Makam Imam Reza, pusat ziarah terbesar di Iran. Di sini, perjalanan hidup pribadinya bertemu dengan simbolisme keagamaan tertinggi. Pemakaman di dekat makam Imam Reza bukan hanya keputusan geografis, tapi pernyataan bahwa kehidupan, pengabdian, dan akhir hayat Khamenei menyatu dalam satu narasi suci yang mengikat identitas nasional dan keimanan.
Ali Khamenei gugur pada 28 Februari 2026 akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kediamannya di Teheran. Prosesi pemakaman awalnya ditunda karena konflik bersenjata yang masih berkecamuk, sebelum akhirnya digelar dari 4 hingga 9 Juli 2026, setelah situasi dinilai memungkinkan untuk menggelar rangkaian upacara negara dan keagamaan secara utuh.















