Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara resmi meminta maaf atas peran negara dalam praktik adopsi paksa yang terjadi selama puluhan tahun hingga 1970-an. Dalam pidatonya di Parlemen pada Kamis, 3 Juli 2026, Starmer menyatakan pemerintah “sangat menyesal dan dengan sepenuh hati meminta maaf” atas apa yang ia sebut sebagai “noda dalam sejarah kita”.
Diperkirakan sebanyak 185.000 bayi yang lahir dari ibu belum menikah di Inggris dan Wales diadopsi antara tahun 1949 hingga 1976. Selama periode itu, banyak perempuan dipaksa, diancam, atau ditipu agar menyerahkan anak mereka kepada keluarga angkat. Starmer menekankan bahwa anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak diinginkan, sementara para ibu diyakinkan bahwa bayi mereka akan lebih bahagia tanpa kehadiran mereka.
“Kepada setiap orang yang terdampak, kami menyampaikan permintaan maaf yang tulus dan mendalam,” ujar Starmer.
Setelah menyampaikan permintaan maaf, ia juga mengumumkan sejumlah langkah dukungan, termasuk kemudahan akses terhadap arsip adopsi dan layanan kesehatan mental bagi para korban dan keluarga mereka.
Pidato Starmer disaksikan langsung oleh sekelompok pegiat kampanye yang telah lama memperjuangkan pengakuan atas penderitaan para ibu yang terpaksa kehilangan anak-anak mereka. Beberapa anggota parlemen pun berbagi kisah pribadi. Sarah Pochin dari Reform UK menangis saat menceritakan ibunya ditekan oleh gereja untuk menyerahkan bayinya, dan baru mengetahui kebenarannya setelah ibunya meninggal. Ann Keen, mantan menteri kesehatan yang kehilangan bayinya pada 1966 saat berusia 17 tahun, mengatakan permintaan maaf ini membantunya melepaskan rasa malu yang selama ini menghantui.
Pemerintah Skotlandia dan Wales telah lebih dulu meminta maaf pada tahun 2023. Namun, pemerintah Inggris sebelumnya, di bawah kepemimpinan Partai Konservatif, menolak melakukan hal serupa dengan alasan negara tidak secara aktif mendukung praktik tersebut. Starmer menegaskan bahwa tanggung jawab negara terletak pada sistem yang didanai dan dilegitimasi—mulai dari pemerintah daerah, institusi keagamaan, hingga layanan kesehatan dan sosial—yang memungkinkan praktik ini berlangsung.
Permintaan maaf ini disampaikan dua pekan setelah Gereja Inggris juga mengakui perannya. Uskup Agung Canterbury Sarah Mullally menyatakan, “Kami sungguh-sungguh meminta maaf atas rasa sakit, trauma, dan stigma yang dialami—dan hingga kini masih dirasakan—oleh banyak orang akibat praktik adopsi di rumah-rumah penampungan yang dikelola atau berafiliasi dengan Gereja Inggris.”
Praktik serupa juga terjadi di sejumlah negara. Di Amerika Serikat, periode 1945–1973 dikenal sebagai “Baby Scoop Era” dengan lebih dari 1,5 juta bayi diadopsi. Australia pada 2013 meminta maaf nasional atas praktik serupa, sementara Irlandia terus menangani dampak dari rumah-rumah penampungan ibu dan bayi yang dikelola Gereja Katolik, di mana sekitar 9.000 anak meninggal dunia sepanjang Abad ke-20.















