Home Berita Olah Raga Ramalan Maradona Soal Komersialisasi Piala Dunia Kembali Dibicarakan

Ramalan Maradona Soal Komersialisasi Piala Dunia Kembali Dibicarakan

Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kembali memicu perdebatan sengit setelah aturan jeda minum tiga menit diterapkan secara ketat—sebuah kebijakan yang banyak dikaitkan dengan ramalan mendiang Diego Maradona delapan tahun silam. Dalam wawancara tahun 2018, legenda sepak bola Argentina itu menyindir keras rencana FIFA memilih kawasan Amerika Utara sebagai tuan rumah, dengan mengatakan bahwa sepak bola di sana lebih mengutamakan keuntungan komersial ketimbang esensi permainan. “Mereka ingin pertandingan dibagi jadi empat babak, masing-masing 25 menit,” ujar Maradona, bercanda namun menusuk, “agar ada lebih banyak waktu untuk iklan.”

Kini, sindiran itu terasa seperti nubuat. FIFA secara resmi mewajibkan jeda minum selama tiga menit di setiap pertandingan demi melindungi pemain dari cuaca panas dan kelembapan tinggi—terutama di stadion terbuka di kota-kota seperti Dallas, Los Angeles, dan Mexico City. Namun, aturan ini tetap diberlakukan bahkan di stadion ber-AC atau beratap, di mana suhu dalam ruangan jauh di bawah ambang batas berbahaya. Di baliknya, stasiun televisi di Amerika Serikat memanfaatkan jeda itu untuk menayangkan iklan berdurasi panjang, memperkuat dugaan bahwa kebijakan ini lebih menguntungkan pendapatan siaran ketimbang kesehatan pemain.

Pelatih top dunia pun bersuara. Thomas Tuchel, pelatih Inggris, menyebut jeda itu memutus ritme alami pertandingan, mengubah dinamika sepak bola yang sejatinya bergerak tanpa henti. Didier Deschamps, pelatih Prancis, mengakui bahwa jeda memberi ruang bagi instruksi taktis, tetapi menegaskan bahwa memotong momentum tim yang sedang menguasai permainan justru merusak keindahan olahraga ini. Meski mendapat kritik tajam, Presiden FIFA Gianni Infantino tetap membela keputusan itu, menegaskan bahwa satu-satunya tujuan adalah keselamatan atlet.

Namun, bagi jutaan penggemar yang menyaksikan pertandingan di berbagai belahan dunia, ramalan Maradona tentang komersialisasi berlebihan dalam Piala Dunia kini bukan lagi lelucon. Ia bukan sekadar bercanda—ia melihat jauh ke depan, sebelum turnamen dimulai. Dan kini, saat iklan mengisi setiap jeda, saat kamera beralih dari pemain yang kelelahan ke iklan minuman energi, ketika uang lebih terdengar daripada sorak penonton—ramalan itu bukan lagi sekadar ramalan. Ia telah menjadi kenyataan.

Previous articlePrancis Waspadai Nasib Jerman dan Belanda di Piala Dunia 2026
Next articleIran Kecam Pejabat AS Usai Ejek Kegagalan Timnas Melli di Piala Dunia 2026