Sumbawanews.com,- Kemarahan publik Korea Selatan terhadap kegagalan tim nasional di Piala Dunia 2026 mencapai titik puncak yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Setelah Timnas Korea Selatan tersingkir di fase grup setelah kalah 0–1 dari Afrika Selatan, pelatih Hong Myung-bo—mantan kapten legendaris timnas dan figur ikonik sepak bola negara itu—tidak hanya dihujat di media sosial, tetapi juga dilarang masuk sejumlah toko swalayan di seluruh penjuru negeri.
Sejumlah minimarket dan toko ritel di kota-kota besar seperti Seoul, Busan, dan Incheon memasang papan pengumuman yang secara jelas menyatakan: “Hong Myung-bo tidak diperkenankan memasuki toko ini.” Aksi ini bukan kebijakan resmi pemerintah atau perusahaan, melainkan bentuk protes spontan dari pemilik usaha dan warga yang kecewa berat terhadap performa tim yang gagal menembus babak 32 besar—peringkat terburuk dalam sejarah partisipasi Korea Selatan di Piala Dunia sejak 1998.
Laporan dari SNE Sports, yang kemudian diadopsi media internasional seperti Dan Tri dan Korea Times, mengonfirmasi keberadaan papan larangan tersebut. Salah satu foto yang beredar menunjukkan tulisan berbahasa Korea yang terpampang di pintu masuk sebuah toko kelontong, dengan nada tegas dan tanpa kompromi. Meski tidak ada sanksi hukum, simbolisme aksi ini begitu kuat: Hong Myung-bo, yang pernah menjadi simbol kebanggaan, kini dianggap sebagai simbol kehancuran.
Komentar dari para pengamat sepak bola semakin memperdalam krisis legitimasi sang pelatih. Park Moon Sung, komentator senior yang dihormati di industri sepak bola Korea, menyatakan: “Tim mana pun bisa kalah, tetapi kekalahan ini berada di level yang jauh lebih buruk. Kenyataan pahitnya adalah tim Korea Selatan memang pantas tersingkir.” Pernyataan itu disampaikan langsung setelah laga melawan Afrika Selatan, ketika kegagalan tim menjadi tak terbantahkan.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, pun tak tinggal diam. Dalam unggahan resmi di platform X hanya beberapa jam setelah pertandingan berakhir, ia menyebut hasil tersebut sebagai “kekecewaan nasional yang tak bisa diabaikan” dan menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengembangan sepak bola di negaranya. Meski tidak secara eksplisit meminta Hong Myung-bo mengundurkan diri, tekanan politik dan publik kini berada di titik tertinggi.
Banyak yang melihat aksi boikot terhadap Hong Myung-bo sebagai ekspresi kemarahan yang lebih besar—bukan hanya terhadap seorang pelatih, tapi terhadap sistem yang selama bertahun-tahun gagal menghasilkan tim yang mampu bersaing di level tertinggi. Di tengah kebanggaan negara-negara seperti Paraguay yang merayakan kejutan atas kekalahan Jerman dengan menetapkan hari libur nasional, Korea Selatan justru tenggelam dalam duka dan kemarahan yang tak terbendung.
Hong Myung-bo, yang pernah memimpin timnas meraih peringkat keempat di Piala Dunia 2002, kini menghadapi kehancuran reputasi yang nyaris tak mungkin dibangun kembali—bukan hanya di tribun, tetapi bahkan di gerbang toko kelontong di sudut kota tempat ia dulu menjadi idola.















