Sumbawanews.com,- Pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Jakarta menjadi malam kelam bagi Timnas Belanda. Die Oranje tumbang 2-3 lewat adu penalti dari Maroko, usai bermain tak meyakinkan selama 120 menit. Legenda sepak bola Belanda, Rafael van der Vaart, tak sungkan mengungkap kekecewaannya: “Kami bermain sangat buruk. Maroko layak menang.”
Laga yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno itu berjalan alot. Dua babak pertama berakhir imbang 0-0, dengan Belanda kesulitan mengatur ritme permainan. Di menit ke-67, Cody Gakpo berhasil memecah kebuntuan lewat gol indahnya, seakan membuka jalan bagi skuad Ronald Koeman untuk melaju. Namun, keunggulan itu tak bertahan lama. Di tambahan waktu babak kedua, Issa Diop menyamakan kedudukan lewat sundulan ganas dari tendangan sudut, memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu.
Dalam extra time, kedua tim saling serang, tapi tak ada lagi yang mampu mencetak gol. Di babak adu penalti, kegagalan dua tendangan Belanda—termasuk satu yang meleset dari kaki Matthijs de Ligt—menjadi puncak kekalahan. Maroko sukses mengkonversi tiga dari empat penaltinya, menutup malam dengan kemenangan 3-2.
Van der Vaart, yang menyaksikan laga dari tribun, langsung memberikan analisis tajam usai pertandingan dalam wawancara dengan NOS. “Saya tidak senang melihat Belanda tersingkir, tapi saya tidak heran. Sejak menit pertama, Maroko lebih fokus, lebih cepat, lebih berani. Kami terlihat kaku, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak punya ide jelas di depan gawang.”
Ia menekankan bahwa gol Gakpo hanyalah ilusi. “Gol itu indah, tapi tidak mencerminkan keunggulan kami secara keseluruhan. Karena mereka lebih banyak menguasai ruang, lebih banyak menciptakan peluang, dan lebih konsisten dalam bertahan. Hasil ini bukan keberuntungan Maroko—ini keadilan sepak bola.”
Pernyataan Van der Vaart menusuk hati para suporter Belanda yang masih berharap timnya bisa menembus babak 16 besar. Di luar lapangan, kritik serupa datang dari analis dan mantan pemain lainnya. Banyak yang menilai kegagalan Belanda bukan hanya soal kekurangan teknis, tapi juga ketidakmampuan tim untuk beradaptasi dengan tekanan besar dan gaya permainan yang dinamis dari tim Afrika.
Maroko, yang kini melaju ke babak 16 besar, menjadi tim pertama dari benua Afrika yang berhasil mengalahkan Belanda di putaran final Piala Dunia sejak 2002. Sementara itu, Belanda gagal melangkah lebih jauh dari babak 32 besar untuk kedua kalinya berturut-turut—setelah pada edisi 2022 juga tersingkir di ronde yang sama.
Dengan kekalahan ini, harapan Belanda untuk meraih gelar Piala Dunia kembali memudar. Van der Vaart menutup komentarnya dengan nada serius: “Kami tidak bisa terus berpura-pura bahwa kami masih tim besar jika tidak bisa bermain dengan integritas dan semangat yang layak. Hari ini, kami tidak pantas menang. Dan kami harus menerima itu.”















