Sumbawanews.com,- Maroko mencatatkan sejarah gemilang di Piala Dunia 2026 dengan mengalahkan Belanda lewat adu penalti 3-2 setelah bermain imbang 1-1 dalam 120 menit di Stadion Monterrey, Selasa (30/6/2026). Kemenangan ini tak hanya mengantarkan Atlas Lions ke babak 16 besar, tapi juga menjadikan mereka tim Afrika pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mampu menyamakan kedudukan lewat gol injury time babak kedua pada pertandingan fase gugur.
Pertandingan berjalan tegang sejak awal. Belanda yang tampil lebih dominan unggul lebih dulu lewat gol Cody Gakpo pada menit ke-72. Tapi semangat juang Maroko tak tergoyahkan. Di menit terakhir babak kedua, tepatnya pada injury time 90+1, bek berusia 29 tahun Issa Diop menyambut umpan silang dengan sundulan keras yang tak bisa dijangkau kiper Belanda. Gol itu mengubah semua narasi—dari kekalahan yang hampir pasti menjadi harapan yang hidup kembali.
Diop bukan hanya pahlawan malam itu. Ia menjadi pemain Maroko kedua yang mencetak gol injury time babak kedua di putaran final Piala Dunia, setelah Zakaria Aboukhlal melakukannya saat melawan Belgia di Qatar 2022. Lebih dari itu, golnya membawa Maroko mencatatkan rekor baru: tujuh gol dalam satu edisi Piala Dunia, jumlah terbanyak dalam sejarah timnas mereka.
Adu penalti pun menjadi babak penentu. Tiga eksekutor Maroko—Youssef En-Nesyri, Sofyan Amrabat, dan Hakim Ziyech—berhasil menuntaskan tugasnya, sementara dua tembakan Belanda gagal, termasuk tendangan penentu yang ditebak dengan sempurna oleh kiper Yassine Bounou. Di tengah hiruk-pikuk para suporter yang memadati stadion, para pemain Maroko berpelukan di tengah lapangan, seolah tak percaya bahwa mereka kembali membuat dunia terkejut.
Kemenangan ini memperpanjang tradisi kejutan Maroko di pentas dunia. Empat tahun lalu, mereka menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal. Kini, dengan langkah tenang namun penuh tekad, mereka siap melanjutkan perjalanan sejarah—menuju babak 16 besar, dan mungkin lebih jauh lagi.















