Sumbawanews.com,- BOSTON — Mimpi Jerman untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 pupus dalam kecamuk kontroversi. Timnas Der Panzer tersingkir di babak 32 besar setelah dikalahkan Paraguay 4-3 lewat adu penalti, setelah gol Jonathan Tah di menit ke-103 dibatalkan oleh VAR, mengubah arah laga yang sempat berada di ujung keberhasilan.
Bertanding di Stadion Gillette, Selasa (30/6/2026), Paraguay tampil lebih agresif sejak awal. Julio Enciso membuka skor pada menit ke-17, memaksa Jerman bermain terburu-buru. Jawaban Der Panzer datang lewat Kai Havertz yang menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-52. Skor itu bertahan hingga waktu normal berakhir, memaksa kedua tim memasuki babak tambahan.
Drama mencapai puncaknya pada menit ke-103. Jonathan Tah, bek andalan Jerman, menyundul umpan tendangan sudut dari Joshua Kimmich, memantulkan bola ke pojok gawang Paraguay. Ribuan suporter Jerman berdiri, berteriak, dan menangis bahagia. Tapi kegembiraan itu tak bertahan lama.
Tim VAR langsung menghentikan perayaan. Wasit asal Maroko, Jalal Jayed, diminta meninjau ulang insiden tersebut. Setelah menonton tayangan ulang di monitor pinggir lapangan, ia memutuskan gol itu batal—karena pelanggaran taktis oleh pemain Jerman di fase awal serangan, yang tak terlihat oleh wasit utama.
Kehilangan gol penentu itu mengguncang mental Jerman. Di babak tambahan, mereka kehilangan momentum. Paraguay yang lebih tenang dan terorganisir justru bertahan ketat, lalu memaksa laga ke adu penalti.
Dalam adu penalti, Paraguay tampil dingin dan presisi. Semua penendangnya sukses, termasuk Orlando Gill yang menjadi pahlawan dengan tendangan penentu. Sementara Jerman gagal di tendangan keempat, ketika Florian Wirtz melempar bola ke tiang gawang.
Kekalahan ini menjadi salah satu kegagalan paling memilukan dalam sejarah Piala Dunia Jerman—bukan karena kekurangan kualitas, tapi karena keputusan teknis yang mengubah takdir laga. VAR, yang seharusnya menjadi penjaga keadilan, justru menjadi simbol kekecewaan bagi para pendukung Der Panzer.
Paraguay, tim yang dikenal sebagai spesialis adu penalti di Piala Dunia, kembali membuktikan reputasinya. Mereka menyingkirkan Jerman—juara dunia empat kali—dengan cara yang paling menyakitkan: lewat keputusan yang membatalkan harapan, lalu menghancurkannya di titik penalti.















