Sumbawanews.com,- California — Satu gol di menit injury time mengubah Stephen Eustaquio dari pemain yang pernah diabaikan menjadi legenda hidup timnas Kanada. Di SoFi Stadium, Inglewood, Senin (29/6/2026) dini hari WIB, gelandang berusia 29 tahun itu mencetak gol penentu kemenangan 1-0 atas Afrika Selatan, sekaligus mengantarkan Les Rouges ke 16 besar Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaan mereka di turnamen ini.
Kemenangan itu bukan sekadar pencapaian statistik. Ia adalah buah dari keputusan strategis yang dibuat tujuh tahun lalu — saat John Herdman, pelatih asal Kanada yang kini menangani timnas Indonesia, meyakinkan Eustaquio untuk meninggalkan kans bermain bersama Portugal U-21 dan memilih membela negara kelahirannya: Kanada.
Eustaquio, yang memegang dual kewarganegaraan Portugal-Kanada, sempat tampil untuk tim U-21 Portugal pada 2017-2018. Tapi Herdman, saat itu masih mengepalai timnas Kanada, tak mudah menyerah. Ia sering menghubungi Eustaquio lewat telepon, berbicara panjang lebar tentang identitas, kebanggaan, dan potensi besar yang terpendam dalam diri sang pemain. “Dia punya semangat juang yang luar biasa. Untuk seorang pemain bertubuh mungil, dia tak pernah gentar dalam duel fisik,” begitu kata Herdman dalam wawancara tahun 2024, yang kemudian menjadi fondasi keputusan Eustaquio untuk mengenakan seragam Daun Maple.
Sejak 2019, Eustaquio menjadi tulang punggung lini tengah Kanada. Tekniknya halus, penglihatan lapangannya tajam, dan disiplin bertahan tak pernah diragukan. Dan pada malam bersejarah ini, di depan 70 ribu penonton yang berteriak hingga ke langit-langit stadion, ia membuktikan semua keraguan itu salah. Golnya yang datang dari tendangan voli akurat setelah umpan silang dari Alphonso Davies menjadi momen yang akan dikenang selamanya dalam sejarah sepak bola Kanada.
Kini, dengan Kanada melangkah ke babak 16 besar, pertanyaan yang menggantung tak lagi tentang keberhasilan tim, tapi tentang Herdman — yang kini duduk di bangku pelatih timnas Indonesia — apakah ia menonton pertandingan itu? Dan jika iya, apakah ia tersenyum, melihat muridnya menjadi pahlawan di panggung terbesar sepak bola dunia?
Kanada akan menanti pemenang laga Belanda vs Maroko di babak berikutnya. Sementara Eustaquio, dengan keringat dan darah yang masih menempel di seragamnya, membiarkan keheningan menyelimuti dirinya — sejenak, sebelum ia kembali berpikir: apa yang akan ia lakukan untuk membuat negara ini lebih besar lagi.















